Dirangkum oleh: Johan Peusangan
Judul diatas diambil dari sebuah tulisan Majalah Pandji Poestaka jameun sekitar tahun 1940 dan masih menggunakan ejaan lama. Isinya benar-benar merupakan pengakuan bahwa proses pembelajaran di nanggroe geutanyo saat itu benar benar membanggakan, sejajar dengan daerah terbaik lainnya di Nusantara. Tulisan ini juga menyedot pikiran kita kembali ke prestasi Aceh dahulu yang bukan saja gudang Ilmu Pengetahuan Agama, tetapi juga menguasai ilmu duniawi dengan prestasi yang banyak dikagumi kaum penjajah itu sendiri.yang mengklaim sebagai pembawa ilmu pengetahuan ke bumi nusantara serta juga menghempaskan lamunan kita terhadap kondisi pendidikan saat ini yang sungguh memprihatinkan.
Sebelum menampilkan uraian dari judul tulisan diatas, saya ingin untuk menyampaikan pendapat yang telah lama saya analisa dan renungkan berdasarkan fakta-fakta kini dan sejarah Atjeh tempo doeloe, bahwa resep untuk mencapai kesejahteraan yang dicita-citakan Masyarakat Seramo Mekkah nyo hanya dapat dicapai melalui 3 langkah berikut ini…………..
Baca selebihnya »
Juni 12, 2008
Ditulis oleh
Johan Peusangan |
Serba-serbi |
Aceh, Bangsawan, Belanda, Guru, Pendidikan, Perguruan Tinggi, Peusangan, Sejarah, Uleebalang |
& Komentar

Episod 8
KEBERHASILAN TEUKU TJHIK PEUSANGAN DALAM MEMBINA EKONOMI RAKYAT
Dengan berbekal ilmu pengetahuan duniawi milik Belanda dan ilmu duniawi-ukhrawi Islamnya orang Aceh, Teuku Tjhik Peusangan memberanikan dirinya untuk mengajak rakyat Peusangan mengarungi kehidupan nyata untuk mencari nafkah yang halal. Maka, roda ekonomi rakyat harus dihidupkan kembali. Perhatian utama ditujukan ke bidang pertanian rakyat.
Pertanian model onderneming (perkebunan) yang telah mencelakakan rakyat Aceh di nanggroe Tamyang dan nanggroe Langsa dijauhinya. Seluruh rakyat Peusangan digugahnya untuk memperluas area persawahan. Ternyata persawahan yang luas menyedot air yang sangat banyak pula. Persedian air untuk persawahan tak mencukupi lagi. Melihat kenyataan ketidak mampuan masyarakat Peusangan untuk memecahkan masalah perairan bagi sawah mereka yang sangat luas itu, Teuku Tjhik Peusangan terpaksa berpaling pada penguasa Hindia Belanda.
Baca selebihnya »
Juni 3, 2008
Ditulis oleh
Johan Peusangan |
Sejarah T. Tjhik Peusangan |
Aceh, Add new tag, Belanda, Jepang, KNIL, Peusangan, PUSA, Revolusi, Sejarah, Uleebalang |
Tidak ada Komentar
Oleh: dr. Abdul Razak M.H. Pulo
Konon, Tgk. H. Pulo disinyalir sebagai salah seorang warga yang mendiami kawasan Cot Batee, Bireuen. Waktu itu hanya ada 4 orang –termasuk Tgk. H. Pulo– yang mula-mula mendiami kawasan pesisir tersebut. Kini, keturunan mereka telah menyebar di seluruh Aceh, terutama di pesisir Bireuen (Cot Batee, Cot U, Cot Uno, Ujong Blang, Lancok, Cot Trieng, Cot Lagasawa, Jangka, dsb).
Hal ikhwal bagaimana awalnya terjadi pertemuan antara Ampon Chik Peusangan dan Tgk. H. Pulo hingga berbuah persahabatan yang langgeng itu masih misteri. Saya sudah mencoba menelusur jejak tersebut, namun saya belum menemukan titik terang……. yang terputus pada sebuah telikung. Alangkah indahnya, sekira ada di antara kita yang dapat membantu sambung telikung yang samar tersebut.
Baca selebihnya »
Mei 20, 2008
Ditulis oleh
Johan Peusangan |
Serba-serbi |
Aceh, Peusangan, Sejarah, Uleebalang |
Tidak ada Komentar
Descendants of Ampon Chik Peusangan
Episod 7
TERUS MELANGKAH MENCERDASKAN RAKYATNYA
Kita kembali lagi kekisah Peusangan. Dan sekarang terlihatlah seluruh kerabat uleebalang Peusangan merasa nyaman dalam arus ilmu pengetahuan Belanda. Maka, Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah tidak mendapat tantangan lagi dari dalam keluarganya sendiri dan kerabat uleebalang Peusangan. Dengan langkah yang ringan, tanpa membuang waktu Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah langsung mengayunkan langkah berikut ke proyek besarnya.
Yaitu, mencerdaskan seluruh rakyatnya, rakyat nanggroe Peusangan. Rakyatnya ditariknya segera dari dalam gua kegelapan serta kebodohan dengan obor ilmu pengetahuan Belanda. Pendidikan rakyat model Belanda dikembangkannya. Secara bertahap dan pasti putra-putri rakyatnya dicerdaskannya melalui pendidikan formal. Gedung sekolah didirikannya, walaupun hanya dalam kondisi serba darurat, sesuai dengan uang yang berdering dikoceknya.
Baca selebihnya »
Mei 13, 2008
Ditulis oleh
Johan Peusangan |
Sejarah T. Tjhik Peusangan |
Aceh, Peusangan, Sejarah, Uleebalang |
1 Komentar