THE HISTORY of ULEEBALANG KEUDJROEEN PEUSANGAN Bag. Terakhir
Pengantar penterjemah (Syamaun Peusangan):
Bagian ketiga (terakhir) ini bercerita dari tahun 1899 hingga akhir laporan mengenai daerah Peusangan ini selesai dibuat di Koeta Radja pada tanggal 14 Mei 1901. Ada 3 kebijakan baru yang diambil oleh Gubernur Jenderal Van der Wijck di Batavia pada tahun 1898. Pertama, memberi wewenang bagi sebuah ekspedisi untuk menyerang dan memburu para pemimpin perang sampai ke dalam Pidie dan kemudian hingga daerah bawahan (Onderhoorigheden). Dengan demikian Belanda meninggalkan prinsip lama bahwa wilayah penaklukan dan kendali langsung terbatas pada daerah kantong (geconcentreerde linie) di Aceh Besar. Kemudian Snouck Hurgronje diangkat menjadi Penasihat untuk Urusan Penduduk Asli dan Arab dan menjalankan tugas untuk merumuskan kebijakan di Aceh. Akhirnya, Van Heutsz diangkat sebagai Gubernur Sipil dan Militer Aceh. Baca selebihnya »
THE HISTORY of ULEEBALANG KEUDJROEEN PEUSANGAN
Pengantar penterjemah: Syamaun Peusangan
Bagian kedua ini bercerita dari tahun 1881 sampai 1898. Di akhir tahun 1880, perang Atjeh dinyatakan berakhir oleh General Karel van der Heijden. Untuk itu dibentuklah daerah daerah kantong (concentratiestelsel) yang diperintah langsung oleh Gubernur Sipil Pruijs van der Hoeven. Daerah diluar zona kontrol ini, disebut dengan Onderhoorigheden, yang diperintah oleh Oeleebalang. Tentera Belanda dikonsentrasikan pada 16 benteng yang satu sama lain dihubungkan dengan jalur kereta api. Susunan benteng tersebut dipertahankan sampai 1893. Jalur kereta ini selalu menjadi sasaran gerilya Atjeh. Di bawah pemerintahan Pruijs van der Hoeven kembali situasi menjadi tak terkendali. Ia berusaha mengurangi pengaruh militer, menaruh agen polisi untuk menjaga perdamaian dan melakukan pendekatan terhadap penduduk setempat. Penyerangan dan pembunuhan terhadap orang Belanda meningkat. Akhirnya ia dipaksa turun dan digantikan oleh Gubernur Sipil dan Militer. Baca selebihnya »
THE HISTORY of ULEEBALANG KEUDJROEEN PEUSANGAN Bag. I
Pengantar dari penterjemah T.M. Syamaun Peusangan:
Artikel di bawah saya terjemahkan dari fotocopy dokumen berjudul “Mededelingen Betreffende De Atjehsche Onderhoorigheden”, yang kira kira berarti “Laporan Mengenai Daerah-daerah Takluk di Atjeh”. Fotocopy yang saya terima dari Mr. D.P.Tick ini hanya merupakan sebahagian dari dokumen tersebut (halaman 108 – 144), dan menceritakan daerah Peusangan (nomor 18), diteruskan dengan Gloempang Doewa (19), Sawang, Nisam, Tjoenda, Samalanga, Peudada, dst. Bagian yang akan saya terjemahkan hanya mengenai Peusangan saja, yang laporannya dibuat di Koeta Radja, tertanggal 14 Mei 1901. Penamaan saya sesuaikan dengan dokumen asli, dan disana sini saya berikan komentar penterjemah untuk memudahkan pengertian. Bahagian ini adalah bahagian pertama yang bercerita hingga akhir tahun 1880. Bahagian seterusnya merupakan cerita selanjutnya hingga 1901. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bang Johan untuk memasukkan artikel ini di blog nya. Mudah-mudahan nantinya bisa dilengkapi dengan foto-foto, yang saya sedang usahakan mencarinya dengan bantuan Mr. Tick. Baca selebihnya »
TEUKU TJHIK MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH DALAM LINTASAN REVOLUSI ACEH Oleh: Dr.Teuku Mohamad Isa
Episod 9
MENUNAIKAN IBADAH HAJI KE MAKKAH AL MUKARRAMAH.
Mendengar kepastian uleebalang Peusangan akan berkunjung ke tanah suci, Gubernur Belanda di Aceh bergegas pula mengirim surat kawat (telegram) kepada Konsul Kerajaan Belanda di Jeddah. Penguasa tanah-suci ummat Islam dalam sekejap telah mengetahui kedatangan raja Islam dari Andalas, langsung dari tangan Konsul Belanda.
Kedatangan rombongan Teuku Tjhik Peusangan Muhammad Djohan Alamsjah disambut dengan upacara kebesaran militer oleh Sjarif Makkah, penguasa tanah-suci ummat Islam masa itu. Kedada raja Islam dari Pulau Andalas itu disematkannya Bintang Kehormatan Tertinggi Arab di tanah-suci ummat Islam.











