TEUKU TJHIK MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH DALAM LINTASAN REVOLUSI ACEH, Oleh: Dr.Teuku Mohamad Isa
Episod 1
ASAL-USUL DAN KELUARGANYA.
Putra raja Mongol, Djengis Khan yang bernama Hulagu Khan pada abad ke13 M. berhasil melakukan invasi yang dahsyat kedalam Imperium Khalifah Abbasiyah. Dengan penuh kebengisan Kota Baghdad yang berpenduduk sekitar sejuta orang dibumi-hanguskan beserta seluruh isinya oleh orang Mongol itu. Gemuruh kekejaman pasukan tentara Mongol membuat seluruh kaula Imperium kehilangan nyali.
Gelombang pengungsian penduduk yang berusaha menyelamatkan diri tak terbendungkan lagi. Sebagian besar gelombang pengungsi itu terdesak keselatan dan sebagian terdampar di wilayah Hadramaut-Yaman, Arabia Selatan. Dalam kepanikan yang luar biasa para pengungsi yang mampu, berusaha menyelamatkan diri melalui jalur pelayaran tradisional kearah Timur. Mereka yang beruntung terhindar dari keganasan badai laut sebahagian terdampar di ujung Pulau Sumatera, di Bandar Aceh. Seorang diantara kaula Khalifah Abbasiyah yang selamat itu, tampil sebagai orang terkemuka di tanah Aceh. Itulah leluhur dinasti Uleebalang nanggroe Peusangan, dipantai utara Aceh.
Dalam masa berkecambuknya perang antara Kerajaan Aceh melawan Belanda (1873-1942), lahirlah seorang bayi sehat dan rupawan. Bayi ini dilahirkan pada tanggal 25 Juni 1890 didesa Pulo Iboh, ditepi kota Matang Glumpang Dua. Ibunya, Potjut Unggaih, seorang putri bangsawan, putri uleebalang Meureudu. Ayahnya, Teuku Tjhik Sjamaun, uleebalang nanggroe Peusangan. Kedua orang tua bayi itu sangat bahagia akan kehadiran putranya yang sehat dan rupawan. Dua sejoli itu memberi nama anaknya, TEUKU MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH. Kemudian setelah memegang jabatan uleebalang dan menunaikan ibadah haji, cucu Teuku Tjhik Muhammad Hasan itu diberi nama, Teuku Hadji Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah Perkasa Alam.
Dalam perjalanan sejarah Aceh abad ke-XX, Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah tampil sebagai salah seorang uleebalang Aceh terkemuka. Teuku Muhammad Djohan Alamsjah merupakan turunan generasi ke-IX pengungsi imperium Abbasiyah yang terdampar di Bandar Aceh pada abad ke-13 itu.
Untuk memperkokoh kedudukan nanggroe Peusangan dalam peta politik kerajaan Aceh, Teuku Tjhik Muhammad Hasan, kakek Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah itu mengikat mantan Kesultanan Peureulak dengan tali perkawinan. Adik perempuannya yang bernama Potjut Zurah dinikahkan dengan uleebalang Peureulak. Melalui perkawinannya dengan uleebalang Peureulak, putri uleebalang Peusangan itu melahirkan seorang putra mahkota untuk nanggroe Peureulak. Sang putra ini diberi nama Teuku Abubakar Sidik. Karena ibunya Potjut Zurah, putri uleebalang Peusangan, maka Teuku Abubakar Sidik digelari Teuku Muda Peusangan.
Setelah berhasil megenggam nanggroe Peureulak melalui tali perkawinan, maka Teuku Tjhik Muhammad Hasan melangkah ke nanggroe Meureudu. Beliau mengawinkan putranya Teuku Tjhik Sjamaun dengan Potjut Unggaih, putri uleebalang Meureudu. Padahal putranya ini sudah mempersunting seorang perempuan pribumi Peusangan. Walaupun demikian Teuku Tjhik Sjamaun dengan lapang dada mengasuh kedua isterinya dengan baik.
TJUT NJAK ASIAH KEUREUTAU KERABAT BARU PEUSANGAN
Kebijakan Teuku Tjhik Muhammad Hasan dilanjutkan lagi oleh putranya, Teuku Tjhik Sjamaun. Dalam masa guncangan peperangan Aceh dengan tentara Belanda, Keujruen Peusangan Teuku Tjhik Sjamaun berusaha merangkai tali persaudaraan dengan sebuah nanggroe kecil yang letaknya disebelah timur Lhok Seumawe, nanggroe Keureutau. Pada saat itu Keujruen Keureutau, Tjut Njak Asiah anak seorang pedagang Tionghoa di muara sungai Keureutau, sudah menyatakan diri bersahabat dengan Kerajaan Belanda. Walaupun demikian Teuku Tjhik Sjamaun tetap berusaha merangkulnya kepangkuan Kerajaan Aceh. Persaudaraan ini sangat berguna untuk memperkuat barisan perlawanan terhadap Belanda.
Dalam masa menunggu jawaban, tiba-tiba Tjut Njak Asiah mengundurkan diri selaku uleebalang Keureutau. Uleebalang perempuan ini tidak mempunyai keturunan. Dia digantikan oleh anak pungutnya, Teuku Tjhik Sjam Sjarif. Pisau bermata dua dimainkannya oleh uleebalang perempuan itu. Pada saat yang bersamaan, Tjut Njak Asiah membiarkan anak pungutnya yang lain, Teuku Muhammad menyatakannya dirinya uleebalang Keureutau.
Teuku Muhammad adalah adik kandung Teuku Tjhik Sjam Sjarif. Kedua kakak beradik ini dipungut anak ketika masih kanak- kanak. Tjut Njak Asiah terus bermain dibelakang layar, memperdayakan Jenderal van Heutz dan Sultan Aceh demi kekuasaannya sendiri. Mendengar adanya pergantian takhta di nanggroe Keureutau, Jenderal van Huetz atas nama Kerajaan Belanda bergegas mengesahkan Teuku Sjam Sjarif menjadi Keujruen Keureutau.
Belanda sangat khawatir takhta uleebalang Keureutau jatuh ketangan adiknya, Teuku Muhammad yang sangat membela kemerdekaan Aceh. Pada saat yang bersamaan Sultan Aceh Tuwanku Muhammad Daudsjah juga bergegas menabalkan Teuku Muhammad menjadi uleebalang Keureutau dengan gelaran pangkatnya Keujruen. Rakyat Aceh menyebut Teuku Muhammad dengan nama kesayangan, Teuku Tjhik di Tunong, artinya raja di selatan.
Dalam masa kekalutan politik di tanah Aceh itu, Teuku Tjhik Sjamaun tidak kehilangan akal, tali persaudaraan tetap dikembangkannya. Teuku Tjhik Sjam Sjarif tetap dirangkulnya. Kegigihan diplomasi Teuku Tjhik Sjamaun mulai berbuah. Dalam perbincangan antara dua orang uleebalang itu tercetus kesepakatan. Teuku Tjhik Sjam Sjarif berjanji kelak dikemudian hari akan mengawinkan putra tunggalnya, Teuku Muhammad Basjah dengan cucu-putri tertua Teuku Tjhik Sjamaun.
Sejarah mencatat janji antara dua orang uleebalang itu memang terwujud. Pada tahun 1929 Potjut Ramlah yang cantik jelita, cucu-putri Teuku Tjhik Sjamaun sekaligus putri pertama Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah naik kemahligai pernikahan dengan Teuku Tjhik Muhammad Basjah.
Teuku Tjhik Sjam Sjarif serta ibu pungutnya dalam kehidupan sehari-hari bersikap sangat merakyat. Mereka dengan cerdik terus bermain mata dengan Belanda sambil menohok nanggroe-nanggroe tetangganya. Dengan cermat Teuku Tjhik Sjam Sjarif mengamati gerak-gerik para uleebalang tetangganya. Terutama sekali nanggroe Seuleumak yang terletak didaerah hulu sungai Keureutau.
Nanggroe Seuleumak ini menjadi benteng pertahanan terkuat di wilayah Pasai terhadap invasi Belanda. Di nanggroe yang padat penduduk ini juga dihuni para ulama militan terkemuka, seperti Teungku Tjhik di Payabakong dan Teungku Tjhik Tanoh Mirah. Dalam masa terakhir perang Aceh, pada tahun 1900-an Sultan Aceh, Tuwanku Muhammd Daudsjah bersama Teuku Panglima Polem M. Daud, memindahkan markas komando pertahanan Kerajaan Aceh ke nanggroe Seuleumak ini. Tanpa terduga peluang yang sangat ditunggu Teuku Tjhik Sjam Sjarif tiba pula. Dengan cermat gerak-gerik lawannya, uleebalang Seulemak itu diamatinya.
Setelah kematian isterinya dimedan pertempuran melawan Belanda, Teuku Bentara Hasjim, uleebalang nanggroe Seuleumak itu mencoba melamar Tjut Njak Linggam, putri uleebalang Krueng Pase. Teuku Hakim Lagabaru, uleebalang nanggroe Krueng Pase, seorang hakim dalam struktur Kerajaan Aceh, sempat terkejut dibuatnya.
Dalam peta politik tanah Aceh, nanggroe Krueng Pase baru muncul menjelang Perang Aceh melawan Belanda 1873. Dan uleebalangnya, Teuku Hakim Lagabaru, seorang petualang politik adalah salah seorang putra uleebalang Blangme. Dalam era pertarungan politik yang sangat keruh, tentu saja dengan suka-cita lamaran seorang uleebalang, Teuku Bentara Seuleumak itu disambut dengan suka-cita. Maka, jadilah nanggroe Krueng Pase sebagai sekutu baru nanggroe Seuleumak.
Posisi uleebalang nanggroe Seuleumak yang menjadi pemimpin federasi uleebalang-uleebalang diwilayah selatan-timur Pase dalam menghadapi invasi tentara Belanda menjadi tak tertandingi lagi. Melihat buah catur politik berada dipihak uleebalang nanggro pendukung Sultan Aceh, Belanda segera memasang perangkap baru. Belanda mendorong sekutunya, Teuku Tjhik Sjam Sjarif masuk kedalam keluarga dinasti Hakim Krueng Pase. Sementara itu Teuku Tjhik Sjam Sjarif sedang menduda, karena ditinggal cerai oleh isterinya Tjut Meutiah, sang panglima perang yang berkiblat ke Sultan Aceh.
Tjut Meutiah lebih memilih Teuku Muhammad alias Teuku Tjhik di Tunong, sebagai pasangan hidupnya. Peluangpun terbuka. Pinangan Teuku Tjhik Sjam Sjarif untuk mejadi menantu uleebalang Krueng Pase diterima dengan suka-cita pula. Maka, disandingkanlah Tjut Njak Bah, adik ipar Teuku Bentara Hasjim dengan uleebalang Keureutau yang sahabat Kerajaan Belanda itu. Akibatnya sungguh fatal bagi perjuangan Teuku Bentara Hasjim Seuleumak, serta perjuangan menegakan kemerdekaan bangsa dan negara Aceh.
Didalam pergaulan keluarga besar uleebalang nanggroe Krueng Pase, Uleebalang Seuleumak yang perkasa tak dapat berkutik. Dia tertawan dan lunglai oleh etiket kaum bangsawan bangsa Aceh. Uleebalang ini terpaksa membatasi dirinya terhadap iparnya, Teuku Tjhik Sjam Sjarif yang culas. Walau bagaimanapun telitinya uleebalang Seuleumak itu membatasi dirinya, peluang untuk menohoknya sudah terbuka lebar bagi uleebalang Keureutau itu. Sekarang kedua uleebalang itu pulang ke dapur yang sama. Tak ayal lagi, Teuku Bentara Hasjim Seuleumak, pemimpin federasi uleebalang pembela Kesultanan Aceh hampir pasti masuk ke jala milik Belanda.
Nasib tragispun sedang menyongsong rakyat Aceh dan anak-cucu Teuku Bentara Hasjim Seuleumak itu. Informasi kekuatannya sudah lebih mudah disadapnya. Dan informasi ini adalah santapan lezat yang sangat dibutuhkan Jenderal van Heutz. Kelak ternyata ramalan ini terbukti kebenarannya.
Dalam perkawinannya dengan putri uleebalang Krueng Pase, Teuku Bentara Hasjim Seuleumak, memperoleh seorang putra. Putranya ini diberi nama Teuku Putih, karena sang putra yang sehat dan rupawan berkulit putih dan berambut pirang. Rakyat nanggroe Seuleumak mengatakan Teuku Putih adalah duplikat leluhurnya Teuku Bentara Tu di Iboh seorang ulama yang berasal dari Persia.
Kebahagiaan perkawinan uleebalang Seuleumak dengan putri uleebalang Krueng Pase tak berlangsung lama. Dalam keadaan masih menyusui anaknya, Tjut Njak Linggam, isteri uleebang Seuleumak wafat. Maka, drama sejarah yang sangat diharapkan Teuku Tjhik Sjam Sjarif tibalah. Teuku Putih, putra Teuku Bentara Hasjim Seuleumak, yang masih menyusui itu diboyong ke nanggroe Keureutau. Bayi itu diasuh dan dibesarkan oleh bibinya, Tjut Njak Bah, di kuta (istana) Teuku Tjhik Sjam Sjarif, Keujruen Nanggroe Keureutau.
Ketika sudah menjadi bocah, putra uleebalang Seuleumak itu menjadi bidak catur yang penting bagi Teuku Tjhik Sjam Sjarif. Sekutu utama Belanda di wilayah Pase itu dengan sangat bangga memperlihatkan keberhasilannya memperdayakan para uleebalang pendukung Sultan Aceh. Bocah kecil, Teuku Putih bin Teuku Bentara Hasjim Seuleumak didandani dalam pakaian yang megah.
Dihadapan utusan Jenderal van Heutz bocah kecil itu, atas nama ayahnya Teuku Bentara Hasjim Seuleumak menanda-tangani akta penyerahan seluruh nanggroe–nanggroe yang bergabung dalam federasi Seuleumak ke dalam nanggroe Keureutau yang mungil itu. Maka, berubahlah status nanggroe–nanggroe pendukung Sultan Aceh, dari otonomi penuh dibawah Sultan Aceh menjadi sub-teritorial nanggroe Keureutau.
Terpojokkan oleh strategi perang Jenderal van Heutz, Teuku Bentara Hasjim Seuleumak merubah strategi perangnya. Bersama-sama dengan sepupunya, Tjut Meutiah, perjuangan menegakan kemerdekaan negara dan bangsa Aceh tetap diteruskan dengan cara perang gerilya. Pemerintahan nanggroe Seuleumak diserahkan kepada adik bungsunya, Teuku Raja Puteh, sebagai pejabat uleebalang.
Jenderal van Heutz tak mau kehilangan akal, dan memasang perangkap baru. Pada tahun 1904 ibu kandung Teuku Bentara Hasjim Seuleumak, Tjut Njak Beureumen–cucu buyut Sultan Pasai Malik al Saleh, bersama anak-isteri dan ibu Teuku Panglima Polem M. Daud diciduk serdadu Belanda dipersembunyiannya diperkampungan penduduk dihulu sungai Pase. Seluruh tawanan Belanda itu dikurung didalam sangkar macan yang terbuat dari besi. Dipikul oleh serdadu Belanda, tawanan ini diarak dengan berjalan kaki sejak dari kota Geudoeng-Pasai hingga Kutaradja. Sepanjang perjalanan tawanan ini dipermalukan dan dijadikan tontonan penduduk Aceh.
Segera pula Jenderal van Heutz mengeluarkan maklumat yang ditujukan kepada panglima–panglima perang Aceh yang belum tertaklukannya, bahwa bila mereka menginginkan ibu dan anaknya kembali dalam keadaan selamat, maka panglima-panglima perang Aceh itu harus menebusnya. Tebusannya adalah panglima-panglima perang Aceh itu sendiri.
Tak ada jalan lain, maka pada awal tahun 1904 Teuku Panglima Polem M. Daud diikuti Teuku Bentara Hasjim Seuleumak bersama pamannya Teuku Tjhik Meukuta Geudoeng, dalam keadaan lunglai terpaksa menyatakan diri berdamai dengan Kerajaan Belanda. Bagi rakyat nanggroe Seuleumak sungguh fatal, kesatriaan rakyat Seuleumak membela kemerdekaan negara Aceh harus dibayar mahal.
Sejarah mencatat pada awal Perang Aceh-Belanda, penduduknya berjumlah 40.000, dan menjelang tahun 1904 penduduknya menyusut menjadi 1000 orang saja. Yang tersisa dari medan pertempuran hanya anak-anak kecil dan janda-janda serta kakek-kakek tua. Makam para syuhada bertaburan diberbagai pelosok negeri.
Ketika masa damai versi Belanda tercapai, Belanda mendesak bidak caturnya Teuku Tjhik Sjam Sjarif. Dari kejauhan Belanda melihat, sudah saatnya Teuku Putih menggusur pamannya Teuku Raja Puteh, Pejabat uleebalang Seuleumak yang masih berkiblat ke Kerajaan Aceh. Maka, Teuku Putih, yang sudah berumur 25 tahun, dengan kuda Arab berbulu putih dalam upacara kebesaran diantarkan ke nanggroe Seuleumak oleh Teuku Tjhik Sjam Sjarif. Boneka nanggroe Keureutau ini, diiringi tembakan salvo dan musik perang pasukan tentara Belanda, ditabalkan menjadi uleebalang Seuleumak.
Teuku Putih, uleebalang baru nanggroe Seuleumak ini mengambil-alih kekuasan dari tangan pamannya Teuku Raja Puteh bin Teuku Bentara Seuntang Seuleumak selaku pejabat uleebalang. Kepada uleebalang Seuleumak baru itu Gubernur Belanda di Aceh menyampaikan surat tanda persahabatannya, dan didalam surat itu tercantum tunjangan bulanannya sebesar f.40.
Nasib yang tragis ini juga menimpa uleebalang anggota federasi Seuleumak lainnya. Malahan nasibnya lebih celaka lagi, tunjangan bulanannya hanya berkisar antara f.15-f.25. Maka, lenyaplah 12 buah nanggroe–nanggroe pendukung Sultan Aceh yang bergabung dalam federasi Seuleumak dalam sekejap. Nanggroe–nanggroe federasi Seuleumak yang patriotik itu terdiri dari: 1. Nanggroe Seuleumak dengan uleebalangnya bergelar jabatan, Teuku Bentara, 2. Nanggroe Pirak, uleebalangnya juga bergelar Teuku Bentara, 3. Nanggroe Arabungkoek, uleebalangnya seorang ulama besar bergelar Teungku Tjhik. Nanggroe selebihnya, 4. Meunye 5. Aroen 6. Mulieng 7. Matang Panyang 8. Arakumudi 9. Seuneudon 10. Buah 11. Blang Glumpang 12. Panton Labu uleebalang cukup bergelar Teuku. Mereka semua 12 uleebalang ini berubah menjadi uleebalang tjut (uleebalang kecil) dibawah nanggroe Keureutau.
Tunjangan bulanan uleebalang Keureutau sungguh menakjubkan, Belanda memberikannya f. 800. Kerabat barunya, uleebalang Peusangan juga mendapat f. 800,- tunjangan bulanannya. Uleebalang nanggroe Idi dan nanggroe Peureulak jauh hari sebelum Perang Aceh–Belanda dimulai, sudah mengikat janji persahabatan dengan kerajaan Belanda, kepadanya masing-masing dianugrahi tunjangan bulanan f.2000.-.
Yang lebih beruntung adalah Teuku Maharadja Mangkubumi Abdul Hamid, kerabat Sultan Aceh. Dia uleebalang Lhok Seumawe, pemilik pelabuhan laut, selalu berdiam diri menantikan pemenang pertarungan perang Aceh-Belanda. Kepadanya Belanda menghadiakan tujangan bulanan f. 3000.-, tetapi putranya yang mejadi panggantinya pada tahun 1940 hanya mendapat f. 100.
Alasannya, Teuku Sri Maharadja Mangkubumi Abdul Hamid sudah berubah tabiat, dia telah menjadi pendukung kaum pendekar kemerdekaan Indonesia. Dengan hartanya yang melimpah, Teuku Sri Maharadja Mangkubumi, mejadi donatur utama Syarikat Islam di Aceh yang kemudian menggusur Belanda dari bumi nusantara……..bersambung ke Episod 2.





Penghargaan tinggi kami haturkan ke Om di Alam Asri X Pondok Indah (Dr. Teuku Mohamad Isa) diatas tulisan tentang T. Tjhik Peusangan, yang menjadi cahaya yang indah bagi kami, anak, cucu, cicit dstnya untuk disimpan sebagai suri tauladan direlung hati kami, semoga Allah SWT menjadikannya sebagai amal shaleh ayahanda…Amin
penasaran kelanjutannya bagaimana yaaaaaa Periode akhir abad 19 dan memasuki abad ke 20.
Sukses bang Johan
Thanks to bang Johan, you spent a lot time to share with us
You are welcome Azmy, I just also like to learn all about this
Assalamu’alaikum…udah lama seh liat web ini, tp baru sempet baca skrg, itupun karena ayah bilang peusangan dengan meureudu ada hubungan keluarga, ternyata benar…
ada yg mau saya tanyain neh, udah saya tanya ma ayah, ternyata ayah gak begitu tau jg, beredar di masyarakat kalo gelar TEUKU itu adalah pemberian dari Belanda, apa benar? apa dasar katanya sehingga terbentuk panggilan TEUKU ?
Gelar Teuku bukan pemberian Belanda. Gelar tersebut sudah ada jauh sebelum Belanda masuk ke tanah Aceh (1873). Dibawah ini kutipan dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Teuku adalah gelar ningrat atau bangsawan untuk kaum pria suku Aceh yang memimpin wilayah nanggroë atau kenegerian. Teuku adalah seorang hulubalang atau ulèë balang dalam bahasa Acehnya. Sama seperti tradisi budaya patrilineal lainnya, gelar Teuku dapat diperoleh seorang anak laki-laki, bilamana ayahnya juga bergelar Teuku.
Banyak kekeliruan serta kesalah pahaman rakyat Indonesia dalam melafalkan atau menulis nama-nama tokoh Aceh, contohnya kesalahan dalam membedakan siapa yang Teuku dan Teungku.
Contoh:
Teuku Umar, bukan Teungku Umar (karena beliau memang seorang Ningrat dari sebuah kerajaan kecil di Aceh Barat)
Teungku Chik Di Tiro, bukan Teuku Chik Di Tiro (Beliau bukan seorang ningrat, tetapi adalah seorang ulama besar di wilayah Tiro, Pidie)
Your Highnesses;
Your website is really very interesting.You show,that the ullebalangs of Aceh also played a good role in the history of Aceh area.
Can you advise me about any good books I can buy about the state of Peusangan.I am going to Indonesia 23-6 as I already told you.
Many thanks for all.On the website of Asian Royals message board you can see about the newest Indonesia dynasty websites.The website Royaltimor has also a list of all the existing royalty websites online.
Thank your brother for his kind message in the guestbook of that website.Did you already receive my envelope with the information about the history of the state of Peusangan.Maybe also good to put a map on your site,where you can see the actual place of the state of Peusangan.
Thank you for your attention and reaction.
I wish you succes with all.
Hormat saya:
D.P. Tick gRMk
secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka”
Vlaardingen/Holland
Dear Pocut Amara Gani, salah seorang Amphon dari Meureudu kawin dengan Cutnyak Nuriah dari Peureulak dan Cutnyak Nuriah ini adik kandung dari Cutnyak Asiah, Cutnyak Asiah adalah istri dari Amphon Tjik Peusangan. itu yang saya tahu tentang persaudaraan Meureudu dan Peusangan, pastinya ada yang lain.
Sebagai catatan bahwa Makam Cutnyak Nuriah di Pemakaman Jeruk Purut Jakarta dan Makam Cutnyak Asiah di Pemakaman Mesjid Raya Medan.
BTW boleh share your family Pocut Amara Gani????
Wah…saya manggil Pocut Nuriah dengan sebutan Jaja, ayah saya keponakan anaknya Pocut Nuriah (Teuku Syakur Mamud kan…)itu, nama ayah saya Teuku Abdul Gani Ayub ato biasa dipanggil Toni…
Keponakan Teuku Syakur Machmud adalah Teuku Abdul Gani Ayub….kalau begitu sodare juge dhooonk.
Aku dekat dengan kak Ita anaknya Bunda Nur (kakaknya Teuku Syakur)saat kak ita masih tinggal di Jalan Petogogan Jakarta setelah kak ita kawin dengan bang Murad maka lama tak ketemu sampai bang Murad pensiun…., dan pastinya kamu panggil Oom Arif dan Oom Zakir dhooonk kalau ke cipete. Baru hari minggu kemerin ketemu Teuku Syakur di kawinan anaknya Kak Monalisa di Masjid Sunda Kelapa Menteng.
hehehe….kata ayah…amara harus manggil Om Azmy neh…suaminya nyakwa ita abang ayah amara Om…
Halo Ayah Johan,
Saya Samira, Ayah Johan tau kann siapa saya?
Maaf ya, tapi saya nggak tau gimana mengontak. oleh sebab itu menuliskan disini.
Di “Family Free - Descendants of T. Radja Husein” (Ayah Chi) ada kesalahan. Saya dan kakak Ashraf Chantal Sonja Kentner anak Dr. Sven-Boerje Walter Kentner. Peter Knabe ayah tiri saya, bukan ayah saya!
Meminta perubahan, ya…
Teri makasih
Samira
aduh, memutarbalikkan huruf di nama saya…maluuuuu tapi bangga menjadi orang aceh dan cucu Nyak Chi…haha ;)!!!
Halo juga Samira
Tau lah ananda, kitakan jauh dimata dekat dihati hehehe.
Oke baik Ayah johan segera revisi, memang belum final minta dikomentari and koreksi.
Semoga sukses dan sehat selalu An Annika Samira Fatma Kentner
Wassalam
Ay. Johan Peusangan
Dear ananda Amara, Bang Tony pernah tinggal di Blok-A Silpi khaaan, salam yaaaaaaa.
Dear ananda Samira, how are you???? Has Vanya Umar contact you?? She is your nephew and now studying in Swiss for two years maybe.
Dear Both ananda…please contact to Teuku Fahri to join the mailing list of Peusangan.
Dear Ayah Johan, Ayah Azmy
saya sudah di mailing list, tapi memakai adress yang lain. Ini adress business.
Vanya Umar belum contact saya. Kalau Ayah Azmy punya adressnya, nanti Samira contact Vanya.
Terima kasih untuk revisi!!!
Salam dari Nürnberg
Very nice and proud to know about your great family, unfortunately I am note the one among you. But my big family have a very tight and long emotional relationship with your Honourable Clan. Just FYI, our ancestor are Raja Siudjut (Sulthan Ala’iddin Mughayat Syah from Kota Tinggi) and Raja Raden (Sulthan Abdullah Ma’ayat Syah from Batusawar)the 2 young King from Johor Kingdom conquerred and prisoned by Sulthan Iskandar Muda and transferred them to Acheh on around early to half of 17th century. Raja Siudjut was killed, while Raja Raden were married the Sulthan’s sister (Putroe Ratna Jauhari/Putroe Bungong Seulipeh)and has given a big piece of land / sub-kingdom, as Ulee Balang Peunoh, later said as Zelfbestuur in Tanoh Abee Area, Seulimueum. Some of their Clan of 10th rows in the Genealogy / Palm Tree are now mostly live and domicile in Acheh Besar, Seulimeum, Tanoh Abee. They were : Teuku Abdullah, as Wedana Seulimeum 1961 - 1964
Teuku Ali Basyah as Ketua Kadin Aceh Besar 1983 - 1985, Teuku Johan - Major General, Wagub and Ketua Golkar Aceh,they are all passed away, while the existing SEKDA Banda Aceh, Teuku Saifuddin T.A(Ampon Din)is in the 11th row of the Genealogy. I know Dr.Teuku Mohammad Isa personally. My best regard to all of Ampon / Ulee Balang Pesangan’s great family members. Teuku Anwar Tanoh Abee. Jl. Alor no.6B Cimone Mas Permai - Tangerang. 021 - 553 9618
Saya sangat tersinggung dengan pernyataan penulis diatas, karena kata2 penulis telah membelokkan sejarah yg benar, saya adalah salah seorang cicit sah teuku said umar abdul azis( AMPON CHIK SUNGAI RAYA ) yg penulis tulis sebagai umar abdul azis, tanpa gelar kebangsawanan aceh. (TLG JGN HANYA PENULIS SAJA YANG MERASA BANGSAWAN DAN BERGELAR!)
Teuku Ramsyah Syarif mempunyai istri yang bernama POCUT SYAFUANUL MARDIAH yang merupakan anak dari AMPON CHIK SUNGAI RAYA, yang penulis tulis sebagai BUNDA NUR. Dan Tidak memiliki anak, Sementara dalam tarombo keluarga saudara penulis tuliskan memiliki anak yang bernama UCOK RAMSYAH. Hal seperti ini menyebabkan kesalahan penafsiran sejarah yg dapat menyebabkan perpecahan dalam keluarga.
Dalam tulisan diatas jg disebutkan bahwa Teuku Ramsyah Syarif pernah menjadi supir bus musiman dan telah berubah menjadi seorang sufi yg bermakam tinggi, hal ini sangat tidak benar karena setelah menikah Teuku Ramsyah Syarif berada bersama keluarga AMPON CHIK SUNGAI RAYA dan menjadi salah seorang PENGUSAHA angkutan Mobil bus ARS sebanyak 6 unit, bukan sebagi supir bus musiman.
Demikian halnya jg bahwa di akhir hayatnya Teuku Ramsyah Syarif semasa sakitnya berada di rumah org tua saya POCUT VERA DJAFAR dan meninggal di RS. MALAHAYATI Medan, bukan di rumah beliau, dan dalam kepengurusan pemakaman Teuku Ramsyah Syarif yang mengurus adalah Keluarga AMPON CHIK SUNGAI RAYA, dan beliau mmg dimakamkan di pemakaman Sultan Deli Mesjid Raya Medan tetapi bukan disebelah makam Teuku Chik Johan Alamsyah melainkan di sebelah makan POCUT FAUZIAH DJAFAR yang merupakan Makam Nyakwa Saya.
APAKAH SAUDARA PENULIS PERNAH BERZIARAH KE MAKAM BELIAU??
MEMBACA TULISAN SAUDARA SAYA SAMA SEPERTI MEMBACA BUKU CERITA KOPINGHOO, YANG ISINYA MERUPAKAN KHAYALAN PENULIS SAJA TANPA MEMPUNYAI REFERENSI DAN TIDAK MENDAPATKAN INFORMASI DARI SUMBER YANG BENAR.
Dalam hal ini Saya tidak mempersalahkan Sejarah mengenai PEUSANGAN walaupun saya sebenarnya sangat-sangat tahu BAIK DAN BURUKNYA SEJARAH KELUARGA PEUSANGAN, kecuali sejarah Teuku Ramsyah Syarif karena sejarah yang penulis tulis tentang beliau telah menyimpang dari sejarah yang benar.
Terima Kasih
Wassalam,
Well…well I have no comment. Maybe need more reading on the wonderful state of Peusangan history. As a student I need to go ahead with graet story of the future state Peusangan Raya.
So many great people done well in the past…And what about now? Sure, we still need to do more to make Peusangan Raya become the leading state among others in Aceh..
Insyaallah…