Ampon Syik Peusangan Uleebalang yang bijak dan ikhlas
Do’a untuk Nek Gam (Oleh: Johan Peusangan)
Sementara kita menunggu editing T. Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah dalam lintasan Revolusi Aceh bagian ke 2, serta meminta ijin dari penulisnya Dr. Teuku Mohamad Isa di Alam Asri X Pondok Indah Jakarta, dan juga ucapan terima kasih kami kepada ayahanda karena telah meluangkan waktu dan pikiran untuk menulis suatu sejarah yang sangat berarti bagi geutanyo mandum.
Karena masalah yang cukup njelimet bagi kita adalah kenapa Aceh, tempat yang begitu indah dengan sumber daya alam yang berlimpah dimana Agama Islam pertama kali bersemi di nusantara nyo, masih jauh dari kemakmuran yang kita impikan bersama….???, sesuatu yang masih sulit saya temui jawaban yang pasti.
Selanjutnya dengan memberanikan diri saya disini juga coba-coba untuk belajar menulis sekedar pengalaman selama berada lebih dari 23 tahun hidup di Serambi Mekkah nyo, berikut juga harap akan oretan dari rekan-rekan tercinta mengenai apapun yang ingin dishare untuk kita bersama. Adapun adanya kekeliruan atau hal lain dalam tulisan ini mohon koreksinya atau dibuat tulisan lain yang juga akan diposting disini. Terima kasih yaaa..atas atensinya, kalau bersedia membaca curhat ulontuan silahkan……..
Setahun yang lalu tepatnya minggu pertama bulan Maret 2007, setelah mengundurkan diri terhitung 1 Maret 2007 dari pabrik pupuk PT. PIM (BUMN Persero) di Lhokseumawe, saya merasakan beratnya meninggalkan pekerjaan yang telah lebih 21 tahun saya jambangi. Walaupun keputusan telah bulat, karena akumulasi dari banyak hal, yang utama adalah karena saya merasa tidak bekerja di Aceh, tetapi hanya di sebuah badan usaha milik negara, yang terasa seolah bertahan hidup pada sepotong ranting kecil dari sebuah pohon besar BUMN yang telah keropos digrogoti korupsi, ineffisiensi dan masih banyak lainnya.
Tetapi meninggalkan sesuatu yang telah lama kita lakoni adalah masalah lain, ada sesuatu kehilangan yang besar karena harus memulai lagi sesuatu yang baru dari nol. Dalam puncak kegalauan itu saya memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Matang Glumpang Dua Peusangan, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.
Alhamdulillah saya dapat tinggal di rumoh Pon Yan (aneuk ayahwa Ma ‘Ali) di Matang Glumpang Dua, dan …….sore itu menjelang magrib saat akan berjalan ke Mesjid Besar Peusangan, seperti biasa di Matang banyak warga duduk2 santai sambil jiep kopi dibalee, mereka menyapa dengan ramah; “ho nek jak ampon, keno piyooh ilhee si’at”, “eehm… jiet …umi, …abu, nyo ulontuan kenek jak u meusejid”.
Karena diminta singgah, sayapun datang dan kamo peugah aba di balee…. , mereka banyak menanyakan mengenai Pocut Maimunah yang saat itu baru 3 bulan meninggal dunia dan menanyakan haba dari Pocut Ramlah, Pocut Fatimah, Pocut Aminah dan aneuk-aneuk T. Tjhi Peusangan lainnya, berusaha mengungkapkan kesan yang indah saat bersama-sama dialami dahulu dan juga tentang kepemimpinan Ampon Syik Peusangan, seorang uleebalang yang betul-betul mengayomi masyarakat peusangan kala itu.
Ucapan mereka terlihat begitu polos apa adanya, dan saya… benar benar tersanjung mendengarnya……………. Pada saat yang sama, saya merasa ada aliran kebahagian menelusuri jiwa saya……….. yaa memang segala sesuatu bisa terjadi dengan Ridho Allah SWT.
Sang Pencipta Maha berkehendak untuk menutupi kegalauan hambaNya dengan kebahagiaan. Saya tidak tahu kenapa tepatnya, tetapi dapat merasakan bahwa Allah yang Maha penyayang sangat menyenangi hambanya yang senantiasa meyambung silaturrahmi yang pernah dilakukan orang-orang tua pendahulu semasa hidupnya, sebagaimana yang senantiasa diingatkan Rasulullah SAW.
Allah yang Maha Kuasa tidak pernah meletakkan kebahagiaan pada; materi, pangkat, keluarga atau nilai keduniaan lainnya, tetapi kebahagian hanya diberikan kepada sesiapa yang beramal ibadah sesuai yang dicontohkan utusanNya Muhammad SAW sebagai suri tauladan kita sampai akhir zaman.
Selesai sholat magrib saya bersukur karena sesaat terlepas dari kegalauan yang menghimpit selama ini. Sembari menunggu waktu Isya, saya duduk sendiri di tangga Mesjid Besar Peusangan memandang Rumoh Geudong yang samar-samar terlihat didepan. Inilah Rumoh yang pernah ditempati oleh Ampon Syik Peusangan dahulu…. Saya membatin apakah Nek Gam dapat mendengarkan bahwa sampai saat ini setelah puluhan tahun, warga masih senantiasa mengenang kebaikannya………?.
Karena kemudian apa yang Nek Gam alami dan rasakan adalah bagaimana Revolusi Sosial memaksa beliau meninggalkan Peusangan tumpah darahnya, terlebih lagi harus melepaskan amanah kepemimpinan trah endatu sebelumnya sebagai Uleebalang Peusangan yang ke IX. Ampon Syik Peusangan harus menjalani masa-masa kesendiriannya saat diasingkan ke Takengon…, dan kemudian tanpa dapat melihat kampung halamannya terpaksa tinggal di Medan sampai akhir hayat beliau.
Pada akhir sholat Isya berjama’ah………, saya memanjatkan do’a kepada Allah SWT memohon ampunan, taufik dan hidayah Nya untuk Nek Gam, seraya memanjatkan syukur terima kasih telah menghadirkan di dunia seorang kakek sebagai pembelajar yang baik bagi kami anak, cucu dan keturunannya, semoga silaturrahmi yang telah dibina Nek Gam sepanjang hayatnya dapat Insya Allah kami teruskan.. Amin yaa… Robbal Alamin.




Semoga Allah SWT membukakan pintu rizky yang berlimpah untuk bang Johan dan Kak Aya.
Amin ya Robbal Alamin..thanks Azmy
“…Nek Tu Gam memang paten !!..” Subhanallah.. Allah tiada sempatkan kami utk bersua dengan beliau
kami hanya diizinkan beroleh cerita dari para Ayah Wa sekalian….
Terima Kasih utk kisah pencerahan ini…
Alhamdulillah An. Mirza, sama2 kita berdoa’a utk Nek Tu, Insya Allah 2 hari lagi kita sambung cerita sejarah Uleebalang Peusangan, utk menjadi suri tauladan kita bersama…Amin
Bang Johan, mungkin sharing Azmy untuk melengkapi data Keturunan Ampon Syik Peusangan, seperti email via Japri.
Ok Azmi kalo ada data atau lainnya kita segera revisi..thanks