Kabinet Baru Pak Gubernur Menuju Aceh yang Baru
Selamat dan Do’a untuk Kabinet Baru NAD Oleh: Johan Peusangan
Selamat buat Pak Gubenur Irwandi Yusuf yang telah melantik “Kabinet Baru” nya kemarin tgl 11 Maret 2008, setelah melalui beberapa kali penyaringan yang ketat.
Besar harapan warga Aceh menyambut acara tersebut. Masyarakat ingin kembali melihat Aceh pada track yang tepat untuk menjadi daerah yang bermartabat dan senantiasa siap dalam membentuk SDM yang berakhlak dan berilmu tinggi dalam menghadapi setiap tantangan ke depan.
Menurut hemat penulis, ketertinggalan kita selama ini adalah karena terlalu lama hidup dalam konflik, sehingga menumbuhkan ketidak sadaran warga baik didalam ataupun diluar Aceh terhadap posisi nanggroe geutanyo. Aceh memang tempat yang cukup indah, dengan sumberdaya alam yang berlimpah sebagai cucuran Nikmat Allah SWT terhadap bumi Serambi Makkah nyo. Tetapi justru nanggroe dengan posisi dilintasan Samudra Hindia dan Selat Malaka ini tidak sepenuhnya menyadari bahwa disamping hidayah kita juga diberikanNya kompetitor (sebagai saingan dalam artian positip).
Sebaliknya Singapore, Malaysia, Thailand dan negara tetangga lainnya justru sadar betul bahwa Aceh sejak zaman dahulu kala adalah saingan (kompetitor)nya yang cukup berarti, sehingga mereka berlomba untuk menjadi yang terbaik dikawasan tersebut.
Secara keseluruhan kondisi daerah Aceh, dapat digambarkan sebagai suatu hidangan yang menggiurkan, tetapi hanya dapat dicicipi dengan ilmu pengetahuan dan kerja keras sebagai Sunatullah yang memang justru disitulah kita masih sangat ketinggalan.
Singapore yang lebih lihay sebagai contoh justru dapat membangun negaranya yang imut itu dengan kemakmuran yang luar biasa diatas Sabang yang konon kabar sebagai pesaingnya dijaman baheula dulu.
Malaysia adalah negara yang paling concern dalam hal pendidikan, telah mengirim hampir seluruh pelajarnya bukan saja ke Aceh, juga ke Eropah dan negara-negara maju lainnya. Salah satu hasilnya adalah Pulau Penang, bukan saja berhasil dari segi pendidikan khususnya sains dan teknologi, tetapi juga pada sektor pelayanan Rumah Sakitnya yang memadukan sistem pengobatan dan pariwisata. Kita dapat lihat bagaimana baiknya layanan Law Wah Ie Hospital dan Island Hospital, dimana hampir keseluruhan pasiennya adalah ureueng Aceh, sehingga dikawasan itu terlihat seperti gampong Aceh.
Dari segi transportasi kita juga masih ketinggalan. Saat penulis membawa mertua berobat ke Penang, ada suatu pertanyaan menggelitik warga tetangga tersebut, bahwa disini banyak dibawa hasil bumi dari Aceh tetapi belum pernah mengenal pengusaha Aceh, karena memang semuanya dikirim melalui Belawan dan Polonia Medan.
Thailand dapat juga dengan optimal meningkatkan sumber daya laut dari Selat Malaka dan sumber buminya menjadi hidangan yang bernilai tambah tinggi di restoran-restorannya di Phuket sebagai salah satu tempat wisata yang cukup populer di Asia Tenggara.
Demikian sekedar gambaran saat ini untuk bekal kita melangkah kedepan dengan terus meningkatkan pendidikan di Aceh. Masyarakat Aceh seyogianya diberi kemudahan studi sampai S2, S3 dan pendidikan vocational lain yang dianggap perlu untuk menunjang kemampuan daerah kedepan. Karena walaupun ketinggalan, kita masih tetap ingin bersaing dikawasan ini dengan motto “the most important thing is not winning but taking part in the competition”.
Akhirnya mohon maaf karena kami hanya memberanikan diri sekedar memberi sumbang saran pemikiran, selebihnya kita semua juga akan ikut bertanggung jawab dengan turut serta berusaha sungguh-sungguh dan berdo’a untuk membantu Pak Gubernur dan Kabinetnya dalam menjalankan amanah yang berat ini.
Selamat buat Abang kami Dr. T.M. Thaib, Sp.A, M.Kes (MMR), atas pelantikannya sebagai Kepala Dinas Kesehatan Prov. NAD yang baru, semoga Allah SWT senantisa memberi kekuatan dan hidayahNya kepada kita semua…… Amin ya Robbal Alamin….. ..




Generasi ACEH yang “dihilangkan” oleh waktu, harus bangun dengan motto ”the most important thing is not winning but taking part in the competition” sehingga menjadiGenerasi Baru yang Unggul dan Ikhlas akan titipanNYA.
Selamat untuk Bang Thaib Peusangan dan Sukses untuk Bang Johan Peusangan.
Dik Johan,
Tulisan2 adinda sangat menyejukkan apalagi saat ini nyakwa sakit jadi ada bahan dari nanggrou geutanyou untuk diperlihatkan pd beliau.
Bravo Jo,tp jangan lupa untuk melanjutkan our task di rumoh geudong yaa.The most important thing is what can we do for our homeland,where our ancestors came from
Terima kasih Cece’ Mimie, do’a kami semoga Nyakwa cepat sembuh dan senantiasa dlm rahmat dan hidayah Allah SWT..Amin
Mudah-mudahan “kabinet” baru akan membawa perubahan yang signifikan buat Aceh.
Seperti diungkapkan oleh futurolog (ilmu yang membuat dugaan scientific terhadap masa depan) terkemuka dunia yaitu John Naisbitt, abad 21 adalah abad dimana desentralisasi akan menjadi sesuatu yang sangat penting. Segala macam bentuk perencanaan terpusat yang selama ini dilakukan Jakarta terbukti menyebabkan kemandekan di semua aspek.
Syukurlah Pilkada Aceh (yang kemudian diikuti oleh propinsi lain) merupakan terobosan baru untuk memberikan kekuasaan otonomi untuk membangun kepada daerah daerah. Tak usah terlalu muluk langsung mengharapkan kesejajaran dengan Singapore, Malaysia atau Thailand. Seandainya dalam waktu singkat GDP per kapita NAD sudah bisa melewati Provinsi Sumatera Utara, dan angka pengangguran diperkecil, maka pembangunan Aceh dapat kita anggap sukses. Saya rasa itu bukanlah masalah yang terlalu sulit untuk dicapai.
Selamat buat “kabinet baru” Aceh. Rakyat Aceh menunggu kerja nyatanya.
nyan kabeutoi…
jak sikula beu tinggi2 - tapi hasee beuna jeut tarasa….
Semoga aceh ke depan menjadi lebih baik. Amin…
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Senang rasanya membaca blog ini, kadang memori kembali ke suasana dimana saat dulu kita masih sama-sama lajang ooh indahnya.
Mus turut bangga punya putra aceh yang peduli terhadap sejarah, kita Do’a kan Smoga Acheh berserta Rakyatnya selalu dalam Lindungan, Rahmat, Karunia, berkah serta Ridha dari ALLAH SWT “Ta lakee Do’a Acheh beu aman bek le ro darah beujeut keu Nanggroe Baldatun Warabbun Ghafur Naggro Acheh Darussalam. AMIIN YA RABBAL ‘ALAMIN
Titip salam kangen buat semua (Bang Johan & Kel, Bang Thaib & Kel, Kak eni & Kel, Kak shery & Kel, Kak fetty & kel serta keluarga besar lainnya.
Bravo Brother Johan, semoga blog nya bisa jadi tempat silaturahmi antar kaum tidak saja buat orang Aceh tapi juga buat cucu Adam & Hawa lainnya. Harapan lainnya agar blog ini dimasa datang juga dapat memberikan “knowledge views” antar orang-orang Aceh yang punya visi maju kedepan agar sejarah masa lalu Aceh yang maju pada zamannya dapat terulang kembali dimasa datang,…semoga.
Sekedar sharing views, baru-baru ini saya ada baca beberapa article yang banyak beredar tentang 2 tahun Aceh setelah Tsunami. Diarticle tersebut, ada yang menarik untuk dicermati bahwa sebaiknya Aceh lebih focus terhadap beberapa issue dalam the rehabilitation & Reconstruction after Tsunami:
1. The vital needs (due to tsunami disaster many people dead or missing, 500,000 displaced from homes, 110,000 need new houses, etc), bagaimana perkembangan hal ini disana, siapa yang paling memberikan kontribusi terbaik terhadap perkembangan ini?, dll.
2. Providing social services (due to building damaged, 2,500 teachers died, more than 2,000 school buildings damaged, 114 health center damaged/destroyed,etc). Apa hal ini sudah ada reconstruction yang berarti..?, dll
3. Managing disaster risk & environment (5,765,000 m3 tsunami waste created, etc), apa sudah ada Tsunami Early Warning System yang memadai saat ini di Aceh dan sekitar ?, dll
4. Establishing infrastructure (due to 3000 km of roads impassable, 14 of 19 seaports badly damaged, 8 of 10 airports damaged, 120 arterial bridges destroyed, etc), apa ada data perkembangan ttg hal ini yang dilakukan Aceh ?
5.Improving Livinghoods (100,000 small business persons lost their livelihoods, more than 20,000 ha fish ponds destroyed, 60,000 farmers displaced, 4,717 coatal fishing boats lost, more than 70,000 ha agricultural land damaged), bagaimana perkembangan ini ?
Kalau boleh jujur, sebenarnya banyak lagi yang ingin saya tahu tentang perkembangan Aceh karena separuh hidup saya sewaktu kecil hingga remaja tinggal di Aceh (Sabang, Banda Aceh, Lhok Seumawe, Langsa), tetapi karena kesibukan pekerjaan cari nafkah sebagai pegawai swasta makan gaji di Jakarta kebanyakan tidak berpihak dengan waktu, sehingga saat ini rasanya tidak bisa mengkontribusi apapun buat kemajuan Aceh. Dream nya tetap ada, doakan manatahu suatu saat kelak..semoga. Salam dari keluarga di Jakarta (Amin Safri (Avi), Golden Leaf Residence Kav. 17 Jakarta Selatan. cell. 0816-868191)
Saya sangat kagum dan bersyukur atas adanya tulisan2 seperti ini. Saya bukan dari Clan Teuku2 Matang Glumpang DuaPeusangan, namun punya hubungan emosional yang sangat kuat dan banyak diberitau oleh para tetua kami tentang Clan anda, karenanya ingin sambung silaturrahmi dgn kel-bes ini. Kami dari keturunan Raja Siujud dan Raja Raden, 2 Sultan Muda Johor yang takluk kepada Sultan Iskandar Muda yang ditawan, ditawan dan diberi daerah kekuasaan di Tanoh Abee Aceh Besar, yang beberapa keturunannya adalah : Teuku Abdullah sebagai Wedana Seulimeum, Teuku Ali Basyah Ketua Kadin Aceh Besar dan Teuku Johan (Mayor Jendral, Wagub, Ketua Golkar Aceh, Mayor Jendral ke 3 yang terbunuh di Mesjid Raya Baiturrahman dimasa konflik, mereka bertiga selalu berpesan kepada saya agar dapat memperluas Silaturrahmi dengan The Big Family of Peusangan. Wassalam
nyan ka mantrap that pak, semoga selalu berjaye!!!