TEUKU TJHIK MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH DALAM LINTASAN REVOLUSI ACEH, Oleh: Dr.Teuku Mohamad Isa
Silsilah Lengkap Peusangan, Silsilah Lengkap Peureulak
Episod 3
MEMBANGUN RUMAH DAN MEMBANGUN RUMAH TANGGA
Bagaimana Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah memperoleh nafkah hidupnya…? Disamping kesibukan sehari-harinya mengurus nanggroe Peusangan bersama pamannya, mereka berdua juga harus menghidupi dirinya. Orangpun lantas bertanya caranya…..
Tak ada perlakuan istimewa bagi penguasa nanggroe Peusangan itu. Mereka harus mencari nafkah sendiri. Diatas lahan miliknya sendiri, Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah harus bercucuran keringat bertani. Selang beberapa tahun, dari hasil cucuran keringatnya bertani, terutamanya hasil sawah dan kebun kelapa, Teuku Tjhik Djohan Alamsjah dapat membangun Rumah Panggung model Aceh dari kayu di Matang Glumpang Dua pada tahun 1907. Rumah ini berkolong satu meter, berdinding papan, dan beratap sirap dari daun rumbia.
Setelah mempunyai rumah sederhana tempat berteduh dan merasa sudah akil balig, Teuku Tjhik Djohan Alamsjah pada tahun 1908 melirik kekiri-kekanan mencari pasangan hidupnya. Kaum kerabatnya menyarankan kepada uleebalang muda itu untuk meneguhkan kembali tali persaudaraan antara nanggroe Peusangan dengan nanggroe Peureulak. Maka, dikirimlah seulangke (utusan) untuk mempersunting Tjut Njak Asiah, putri uleebalang Peureulak -Teuku Tjhik Abubakar Sidik. Sungguh beruntung, lamaran uleebalang Peusangan yang masih belia itu diterima dengan penuh kegembiraan oleh uleebalang Peureulak. Maka, Teuku Tjhik Djohan Alamsjah telah mendapat status baru, adik ipar Teuku Muhammad Thajeb Peureulak.
Kelak sebagai pengganti ayahnya selaku uleebalang Peureulak, Teuku Muhammad Thajeb tampil dipanggung politik nasional Indonesia sebagai patriot kemerdekaan terkemuka. Selaku anggota Volksraad Hindia Belanda terkemuka, Teuku Tjhik Muhammad Thajeb dengan gigih berusaha mewujudkan impian Indonesia Merdeka. Belanda sangat gusar dibuatnya. Akibat ulahnya ini, masa jabatannya di Volksraad dari 4 tahun dipersingkat menjadi 2 tahun. Atas dasar hak istimewa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Teuku Tjhik Muhammad Thajeb diputuskan untuk menjalani hukum pengasingan ke Boven Digul.
Sekarang giliran Teuku Tjhik Muhammad Thajeb dibuat gusar oleh ulah Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Saat eksekusi akan dilaksanakan, tanpa terduga Gubernur Belanda di Jawa Barat yang bersimpati terhadap Impian Indonesia Merdekanya Teuku Muhammad Thajeb tampil membelanya. Sungguh suatu mukjizat. Akhirnya, keputusan hukum terhadap Teuku Tjhik Muhammad Thajeb, cucu-mantu Sultan Hamengkubuwono-II dirubah. Namun uleebalang Aceh itu diusulkan mengundurkan diri dari jabatannya baik selaku uleebalang Peureulak maupun anggota Volksraad Hindia Belanda.
Uleebalang ini tidak diperkenankan kembali lagi ke nanggroenya, Peureulak –Aceh. Gubernur Jenderal Hindia Belanda menetapkan tempat kediamannya yang baru, Batavia (Betawi). Sampai akhir hayatnya Teuku Tjhik Muhammad Thajeb tak pernah lagi melihat tanah kelahirannya. Dan pada tahun 1954 patriot Republik Indonesia ini wafat, serta dimakamkan di pekuburan muslim Blok P- Kebayoran Baru.
Sungguh ironis Pemerintah Negara Republik Indonesia hingga saat ini masih melupakan jasa-jasa patriot yang luar biasa ini. Itulah saudara ipar uleebalang Peusangan, Teuku Tjhik Djohan Alamsjah, yang melakukan perjuangan terbuka melawan Belanda dipanggung politik nasional Indonesia.
Setelah 7 tahun berselang baru Gubernur Jenderal Hindia-Belanda menempatkan Teuku Njak Arief (1927-1931), Panglima Sagoe XXV-Mukim, sebagai pengganti Teuku Tjhik Muhammad Thajeb (1918-1920) di Volksraad. Dikira anak kucing Persia yang lemah-gemulai, ternyata Teuku Njak Arief merupakan harimau yang lebih ganas lagi dibandingkan pendahulunya, Teuku Tjhik Muhammad Thajeb. Podium Volksraad digunakannya untuk membela Ir.Soekarno dan memperjuangkan Indonesia merdeka. Belanda tak mau tertimpa musibah besar oleh ulah uleebalang Aceh itu, yakni lepasnya bumi Nusantara dari tangannya. Akhirnya Belanda menempatkan Tuwanku Mahmud (1931-1942), putra Tuwanku Pangeran Husin, di Volksraad mewakili daerah Aceh.
Didampingi oleh Tjut Njak Asiah Peureulak yang sangat bijak, Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah dapat mengarungi kehidupan dengan penuh kebahagian. Anak pertamanya, seorang putri lahir pada bulan April 1912. Kedua sejoli yang diliputi kebahagian itu menganugrahkan nama, Potjut Ramlah, untuk putri mungilnya.
Potjut Ramlah tumbuh dewasa menjadi seorang putri yang cantik jelita. Banyak pemuda, putra-putra uleebalang Aceh bermimpi ingin melamarnya. Impian putra-putra uleebalang perkasa itu terpaksa terkuburkan. Potjut Ramlah telah menjadi milik rakyat dan bangsa Aceh yang bermukim di Peusangan. Gadis yang cantik jelita ini telah terikat dengan strategi politik demi keagungan nanggroenya.
Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah telah mewarisi wasiat ayahnya, bahwa kelak putri pertamanya menjadi pengikat tali persaudaraan dengan nanggroe Keureutau. Pada usia 16 tahun putri jelita itu menyelesaikan pendidikan formal Belanda pada ELS di Kutaraja. Kemudian dia selama setahun memperdalam ilmu Islam bersama guru pribadinya di kediaman ayahnya di Matang Glumpang Dua. Tatkala berusia 17 tahun, Potjut Ramlah dipersandingkan dengan Teuku Muhammad Basjah, putra tunggal Teuku Tjhik Sjam Sjarif, uleebalang Keureutau.
Tahun 1929 adalah masa yang paling menyibukkan bagi rakyat nanggroe Keureutau dan nanggroe Peusangan. Perkawinan kedua anak uleebalang Aceh terkemuka itu dilakukan dalam upacara yang megah. Gubernur Belanda dan pejabat tinggi Belanda di Aceh harus tercantum dalam daftar utama undangan pernikahan itu, karena Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah tak mau tertimpa nasib yang sama dengan abang iparnya, Teuku Tjhik Muhammad Thajeb dibuang ke Boven Digul. Dalam masa pendudukan Belanda di Aceh, setiap uleebalang wajib mengundang Gubernur Belanda dalam setiap perlehatan apapun yang diselenggarakannya.
Pasangan pengantin muda-belia itu tampak sangat anggun. Dalam pakaian kebesaran, Teuku Muhammad Basjah yang baru berumur 20 tahun dan masih murid sekolah MULO (SMP) di Kutaraja, tampil diatas panggung pelaminan yang penuh pernak-pernik hiasan. Gubernur Belanda di Aceh beserta pembesar lainnya berbaris mengucapkan selamat kepada pengantin yang putra-putri uleebalang Aceh itu. Belanda sangat senang melihat keluarga uleebalang Aceh yang sudah jinak ini. Walaupun demikian, Belanda dalam kebijakan politiknya tetap memperlakukan seluruh uleebalang Aceh bagaikan harimau ganas bagi kekuasaannya.
Dr. Ida Bagus Bagiastra, seorang dokter lepasan NIAS–Surabaya, menolong persalinan permaisuri Teuku Tjhik M. Basjah di Rumah Sakit pemerintah Hindia Belanda di Lhok Sukon. Kelahiran calon putra-mahkota nanggroe Keureutau disambut dengan penuh kegembiraan oleh seluruh rakyatnya.
Meriam puntung ditembakan, kembang api dinyalakan menerangi langit malam hari nanggroe Keureutau. Para ulama mengantarkan doa disurau dan mesjid. Bedug di mesjid, surau, dan meunasah dipukul bertalu- talu. Pendek kata seluruh lapisan rakyat, merayakan kelahiran putra mahkota Keureutau menurut cara dan kemampuannya masing-masing.
Diselimuti oleh kegembiraan yang berlebihan, menantu kesayangan Teuku Tjhik Peusangan ini pada tahun 1936 lepas kendali. Teuku Tjhik Muhammad Basjah dan kontrolir Lhok Sukon- Swart Junior, putra Mantan Gubernur Belanda di Aceh, bercengkrama gembira sambil menunggu kepulangan Potjut Ramlah dari rumah orang tuanya di Peusangan. Untuk mempererat tanda persahabatan, kedua pejabat yang berbeda asal dan berbeda tujuan hidup itu, meneguk minuman whisky, seloki perseloki. Hari sudah menjelang malam, permaisuri Teuku Tjhik Muhammad Basjah belum juga muncul di Lhok Sukon.
Dalam terbius oleh minuman beralkohol tinggi, tiba-tiba uleebalang Keureutau itu terkejut oleh suara deruman mobil Chrysler. Permaisuri uleebalang Keureutau itu melangkah turun dari tangga mobilnya menuju kepintu utama rumahnya sambil ditatapi oleh kedua lelaki yang sedang duduk diberanda. Sesuai adat-kebiasaan bangsa Belanda, saat melihat Potjut Ramlah yang cantik jelita, kontrolir Belanda itu langsung memuji kecantikannya.
Mendengar ocehan Swart Jr., Teuku Tjhik Keureutau merasa terhina, karena perbuatan orang Belanda itu dianggap pantangan besar dikalangan bangsa Aceh. Dan perbuatan tercela itu, dianggap menghina tuan rumahnya, Teuku Tjhik Muhammad Basjah.
Sambil berkata kepada Swart Jr., coba kamu ulangi perkataanmu itu sekali lagi, Swart Jr. mendapat hujan bogem mentah bertubi-tubi dari menantu Teuku Tjhik Peusangan itu. Dalam keadaan babak-belur, Swart Jr. lari sipat kuping ke tangsi serdadu Belanda, di samping rumah dinas Teuku Tjhik Keureutau di Lhok Sukon. Malam itu juga, Swart Jr. dilarikan oleh Komandan Bataliyon Marsose di Lhok Sukon ke Kutaraja, melaporkan dirinya kepada Gubernur Belanda di Aceh, Dr.van Aken.
Gubernur Belanda sungguh masygul akan perbuatan uleebalang Aceh itu. Setelah berfikir sejenak, diambil keputusan, Teuku Tjhik Muhammad Basjah –uleebalang Keureutau dikenakan hukuman pengasingan selama setahun di Kutaradja. Jabatannya selaku uleebalang dialihkan kepada saudara sepupunya, Teuku Radja Sabi, putra Tjut Mutia -sang pahlawan- Perang Aceh. Dan Swart Jr. itu, dipersilahkan kembali ke negeri Belanda untuk memperdalam ilmu pemerintahan, terutama studi tentang Aceh.
Teuku Tjhik Muhammad Basjah, menamai calon putra mahkotanya, Teuku Ramsjah. Nama Ramsjah merupakan kependekan dari nama ibunya, Ram- lah dan nama ayahnya, Ba-syah. Ayah–bunda itu mewariskan namanya kepada putra tunggalnya, dengan harapan calon putra mahkota ini dapat mewariskan kemegahan dan keagungan leluhurnya uleebalang Peusangan dan uleebalang Keureutau.
Bagaikan embun pagi diterpa panasnya sinar matahari, Revolusi Sosial Aceh tahun 1945 telah melenyapkan harapan suami-isteri bangsawan Aceh itu tanpa bekas. Teuku Tjhik Muhammad Basjah menemui ajalnya di Blang Siguci, dipancung oleh algojo PUSA yang bernama Mandoe Eit, mantan ajudannya sendiri..
Mantan ajudan ini berani berbuat lancang karena disurah oleh Teuku Hasan Ibrahim Krueng Pase, anak pungut Tjut Njak Bah -ibu kandung Teuku Tjhik Muhammad Basjah. Selaku panglima Markas Rakyat di Lhok Sokun, Teuku Hasan Ibrahim Krueng Pase memerintahkan Kapten Hasbi Wahidi -komandan bataliyon TKR- Lhok Sukon melakukan penangkapan resmi terhadap seluruh uleebalang dan pejabat negara RI di wilayah kewedanaan (gun-cho) Lhok Sukon. Terutama terhadap dua orang musuh bebuyutannya, yaitu Teuku Bentara Puteh-uleebalang Seuleumak dan Teuku Tjhik Muhammad Basjah, karena kedua orang ini telah berani menolak lamaran Teuku Hasan Ibrahim Krueng Pase untuk mengawini seorang janda kaya. Dan janda kaya yang menjadi incerannya adalah Tjut Njak Nur- adik kandung Teuku Tjhik Muhammad Basjah, janda putra Teuku Sri Maharadja Mangkubumi -uleebalang Lhok Seumawe.
Setelah kedua musuh bebuyutannya itu menjadi mangsa algojo PUSA, impian panglima Markas Rakyat di Lhok Sukon untuk menjadi suami janda kayapun menjadi kenyataan. Harta sijanda kaya itupun dikuras habis, bekal dia mengawini seorang gadis -putri uleebalang Meuraxa- Kutaraja.
Nasib anak manusia berjalan menurut suratan-tangannya masing-masing. Demikian pula dengan nasib Teuku Ramsjah, calon putra mahkota Keureutau ini. Pada tahun 1978 dikeramaian Pasar Glodok, di Jakarta tanpa terduga dua anak manusia bertemu kembali. Tiba-tiba seorang anak muda dengan wajah dan dalam pakaian kumuh, merangkul Dr. Ida Bagus Bagiastra. Orang muda ini memperkenalkan dirinya, Teuku Ramsjah putra Teuku Tjhik Muhammad Basjah -uleebalang Keureutau.
Sungguh terperanjat Dr Ida Bagus Bagiastra, putra kaum brahmana Bali itu dibuatnja. Dalam keadaan hanyut terbawa oleh gelombang nostalgia zaman normal, putra brahmana Bali ini terasa terdampar kembali di rumah sakit Belanda di Lhok Sukon. Kini sang bayi dari Permaisuri Uleebalang Keureutau yang dibantu persalinannya tegak dihadapannya. Perasaan haru orang Bali itu tak terbendungkan lagi. Dalam keadaan bercucuran air mata segera dirangkulnya mantan pasiennya, putra mahkota nanggroe Keureutau itu.
Dr. Ida Bagus Bagiastra menyaksikan peristiwa kepedihan riwayat anak manusia, Teuku Ramsyah. Waktu telah melucuti seluruh keagungan dan kekayaan yang diwarisi sang bayi, pasien dokter yang orang Bali itu. Kini Teuku Ramsjah, cucu kesayangan Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah terdampar ditepi kefakiran.
Dalam keadaan hanyut terbuai oleh kenangan masa lalunya masing-masing, kedua anak manusia itu kemudian berpisah melanjutkan perjalanannya. Dr. Ida Bagus Bagiastra ke kantornya, selaku direktur utama PT ASKES-RI. Teuku Ramsjah kembali kepangkalannya, selaku sopir mobil-truk musiman.
Teuku Ramsjah sungguh berperi laku aneh. Ketika kerabat ibunya Letnan Jenderal Polisi Teuku Abdul Aziz, Wapangab RI dan Letnan Jenderal TNI Dr. Teuku Sjarif Thajeb, Menteri P&K RI masa orde-baru yang sangat terkemuka, menawarkan pilihan jabatan bupati di wilayah NKRI, dengan senyum dikulum ditolaknya kebaikan hati kedua orang petinggi Republik itu. Rupanya kedua petinggi Republik Indonesia tak tahu, bahwa Teuku Ramsjah, putra mahkota nanggroe Keureutau telah berubah menjadi seorang sufi yang bermakam tinggi.
Akhirnya cucu kesayangan Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah ini mengembuskan nafas terakhir pada tanggal 11 Maret 1990 di rumahnya di Medan, setelah beberapa saat mederita sakit gagal ginjal. Putra mahkota nanggroe Keureutau itu dimakamkan disamping kakeknya, Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah, dipekuburan keluarga Sultan Deli -disamping Mesjid Raya Sultan Deli- Al Maksum, Medan………. bersambung ke Episod 4..




Banyak sejarah yg t’lah kami pelajari, tetapi ada sesuatu keliru tertanam dihati, karena selama ini…luput nilai-nilai sejarah sbg suri tauladan yg tinggi yg justru bersumber dr kampung halaman sendiri……, mari sama-sama kita gali Sejarah T. Tjhik Peusangan ini.
Dear bang Johan, seingat Azmy pada tanggal 11 Maret 1990 Azmy sempat menjenguk almarhum di Rumah Sakit …(sekitar Tapian Daya), ssat minta ijin pulang ke Desa Jamuan, …. Senin pagi di Jamuan Azmy dapat kabar bang Ramsyah meninggal di Rumah Sakit He passed away at hospital
Buat generasi ke-4 seperti Fahri, seru juga baca sejarah leluhur. Mungkin ga pernah bertemu sama Beliau, tp sebagai keturunannya, sangat bangga dengan apa yang tertulis di sini. Wassalam.
Joe, tolong di cross check lagi sama Dr. T.M. Isa, bahwa tidak terjadi salah penulisan gelar Teuku, Teungku atau Tengku yang banyak kita jumpai di tulisan sejarah Aceh atau Melayu.
Artikel di bawah menunjukkan TEUKU Hasan Ibrahim meminta penangkapan para uleebalang, padahal dia sendiri uleebalang (?) Doesn’t make any sense, tapi mungkin benar. Please cross check in the whole article/story.
—————
Teuku Hasan Ibrahim Krueng Pase memerintahkan Kapten Hasbi Wahidi -komandan bataliyon TKR- Lhok Sukon melakukan penangkapan resmi terhadap seluruh uleebalang dan pejabat negara RI di wilayah kewedanaan (gun-cho) Lhok Sukon
—————————————
Ya Azmi, info dari bg Amir di Matang Gl Dua Bg Ramsjah meninggal di rumah sakit,… Sam ok akan kita tanya penulisnya Ay. Dr. T.M. Isa, tapi menurut sy, revolsi aceh… itu tdk sdmk berkarakter, hanya komplotan haus kekuasaan dengan kendaraan PUSA ingin mencapai ambisi politiknya..disini teuku atau teungku menjadi tidak relevan.. dan ulama sendiri banyak yang mengutuk tindakan tersebut..tambahan gelar teuku sendiri bisa aja dgn mudah diadopsi…
Saya sangat tersinggung dengan pernyataan penulis diatas, karena kata2 penulis telah membelokkan sejarah yg benar, saya adalah salah seorang cicit sah teuku said umar abdul azis( AMPON CHIK SUNGAI RAYA ) yg penulis tulis sebagai umar abdul azis, tanpa gelar kebangsawanan aceh. (TLG JGN HANYA PENULIS SAJA YANG MERASA BANGSAWAN DAN BERGELAR!)
Teuku Ramsyah Syarif mempunyai istri yang bernama POCUT SYAFUANUL MARDIAH yang merupakan anak dari AMPON CHIK SUNGAI RAYA, yang penulis tulis sebagai BUNDA NUR. Dan Tidak memiliki anak, Sementara dalam tarombo keluarga saudara penulis tuliskan memiliki anak yang bernama UCOK RAMSYAH. Hal seperti ini menyebabkan kesalahan penafsiran sejarah yg dapat menyebabkan perpecahan dalam keluarga.
Dalam tulisan diatas jg disebutkan bahwa Teuku Ramsyah Syarif pernah menjadi supir bus musiman dan telah berubah menjadi seorang sufi yg bermakam tinggi, hal ini sangat tidak benar karena setelah menikah Teuku Ramsyah Syarif berada bersama keluarga AMPON CHIK SUNGAI RAYA dan menjadi salah seorang PENGUSAHA angkutan Mobil bus ARS sebanyak 6 unit, bukan sebagi supir bus musiman.
Demikian halnya jg bahwa di akhir hayatnya Teuku Ramsyah Syarif semasa sakitnya berada di rumah org tua saya POCUT VERA DJAFAR dan meninggal di RS. MALAHAYATI Medan, bukan di rumah beliau, dan dalam kepengurusan pemakaman Teuku Ramsyah Syarif yang mengurus adalah Keluarga AMPON CHIK SUNGAI RAYA, dan beliau mmg dimakamkan di pemakaman Sultan Deli Mesjid Raya Medan tetapi bukan disebelah makam Teuku Chik Johan Alamsyah melainkan di sebelah makan POCUT FAUZIAH DJAFAR yang merupakan Makam Nyakwa Saya.
APAKAH SAUDARA PENULIS PERNAH BERZIARAH KE MAKAM BELIAU??
MEMBACA TULISAN SAUDARA SAYA SAMA SEPERTI MEMBACA BUKU CERITA KOPINGHOO, YANG ISINYA MERUPAKAN KHAYALAN PENULIS SAJA TANPA MEMPUNYAI REFERENSI DAN TIDAK MENDAPATKAN INFORMASI DARI SUMBER YANG BENAR.
Dalam hal ini Saya tidak mempersalahkan Sejarah mengenai PEUSANGAN walaupun saya sebenarnya sangat-sangat tahu BAIK DAN BURUKNYA SEJARAH KELUARGA PEUSANGAN, kecuali sejarah Teuku Ramsyah Syarif karena sejarah yang penulis tulis tentang beliau telah menyimpang dari sejarah yang benar.
Terima Kasih
Wassalam,
Ferdian Syahputra yang berkomentar pada Agustus 15,2008 untuk Episode 3 ini….kenapa di-posting pada setiap “subjek”…. ada maksudnya???.
Ferdian Syahputra menulis: “Dalam hal ini Saya tidak mempersalahkan Sejarah mengenai PEUSANGAN walaupun saya sebenarnya sangat-sangat tahu BAIK DAN BURUKNYA SEJARAH KELUARGA PEUSANGAN,..”…..tolong tulis tentang BAIK DAN BURUKNYA SEJARAH KELUARGA PEUSANGAN dan serta sebutkan sumbernya????
Terima kasih dan Salam buat Wak Salmi dan Kakanda yang mengenal saya.
Teuku Ferdian Syahputra,
Saya rasa anda terlalu berlebihan memposting hal yang sama pada setiap subyek. Tidak ada informasi baru dan tidak ada gunanya. Hanya memakan bandwidth saja.
Blog ini diusahakan Bang Johan dengan berdasarkan tulisan Dr. T.M. Isa. Tiada maksud pengagungan terhadap orang tertentu ataupun penghinaan terhadap orang/kelompok tertentu. Dalam setiap tulisan tentunya ada bahagian yang tidak benar, untuk itu terima kasih untuk koreksinya.
Dan penghargaan kita terhadap orang tua tidaklah didasarkan kepada pernyataan orang terhadap orang tua kita. Saya sendiri, sebagai putra dari T.M. Hasan, anak laki-laki tertua dari Teuku Tjhik Peusangan, sering mendengar statement bahwa ayah saya yang sangat saya cintai itu, tidak berhasil memenuhi “standar” kakek saya. Karena Ayah saya itu “biasa-biasa” saja, hanya seorang staf biasa di perusahaannya, juga tidak berhasil menyelesaikan studinya di Recht Hoge School zaman itu. Beliau tidak se-level dengan saudara/saudarinya yang lebih sukses secara ekonomi. Tapi buat saya, semua itu tidak penting. Yang saya ingat adalah seorang Ayah yang sangat care dengan anak-anak nya, care sama pendidikan anak2nya. Itulah memori saya terhadap beliau, terlepas apa yang diceritakan atau dituliskan orang lain.
Kesimpulannya, chill-out bro Ferdian, take it easy. Relax sedikit dan enjoy tulisan yang ada serta beri kritik konstruktif dimana perlu.
Bro Maun