Ampon Syik Peusangan, Uleebalang yang bijak dan ikhlas.
Nilai pendidikan warisan Nek Gam. (Oleh: Johan Peusangan)
Allah SWT menurunkan Al Qur’an nul Karim sumber dari khasanah ilmu yang abadi berlaku untuk saat lampau, kini dan sampai akhir kehidupan alam semesta nanti…. kepada junjunganNya Muhammad SAW. Secara bertahap melalui pengorbanan tekad dan harapan Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya, ilmu tuntunan dari langit itu turun kebumi. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan sebagai penopang amal shaleh disisi Allah SWT, sehingga dalam tuntunannya Rasulullah SAW menuturkan bahwa, orang yang berilmu pengetahuan walaupun sedang tidur lebih ditakuti syaitan daripada orang yang sedang beribadah tetapi tidak ada ilmu.
Alhamdulillah melalui sejarah, terbukti bahwa langkah perjuangan T. Tjhik Peusangan secara sungguh-sungguh berusaha mentauladani tuntunan Nabi SAW ini. Ampon Syik Peusangan memang sejak dahulu telah bertekad untuk mengenyahkan penjajah Belanda justru melalui ilmu mereka sendiri…….
Dengan strategi ini uleebalang kharismatik tersebut terus bekerja keras membangun pendidikan di nanggroe Peusangan. Puncaknya pada tanggal 21 Jumadil Akhir 1348 H bertepatan dengan 14 Nopember 1929 Miladiyah di ibu kota Landschap Peusangan, Matang Glumpang Dua dengan meresmikan serta mengijinkan diatas tanahnya berdiri sebuah organisasi “Yayasan pendidikan Al-Muslim” dibawah pimpinan Teungku Abdul Rahman Meunasah Meutjap.
Saat ini dibawah naungan Yayasan tersebut telah dibangun Universitas Al-Muslim sebagai pendidikan tinggi swasta yang terbaik di Nanggroe Aceh Darussalam memiliki 7 unit Fakultas (Pertanian, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Teknik, Sosial dan Politik, Ekonomi, Ilmu Komputer dan Kesehatan Masyarakat), dan diikuti oleh lebih 10.000 mahasiswa yang saat ini diasuh Rektor: Drs. H. Amiruddin Idris, SE, M.Si.
Keberhasilan Ampon Syik ini ingin juga untuk diperoleh uleebalang-uleebalang dari tanah lain dengan cara mengirimkan putra-putranya untuk dididik langsung oleh Zelfbestuurder Peusangan tersebut Beliau juga berhasil dalam membina pendidikan putra-putrinya sehingga mampu menyerap pendidikan tinggi dari kaum penjajah, tetapi dengan tetap memegang teguh adat istiadat aceh dan nilai-nilai Islami. Dan yang monumental adalah putri kedua beliau yang terhormat Nyakwa Potjut Hj. Fatimah Zohra Peusangan, lulusan Kweekschool (semacam IKIP/UPI sekarang) merupakan guru wanita pertama dalam catatan sejarah Aceh.
Sekedar melengkapi, kami lampirkan juga kesan dan kenangan warga Peusangan yang dimuat di komentar pembaca Serambi Tahun 1995. Inilah kemudian menjadi warisan Nek Gam yang perlu senantiasa kita pedomani dan tindak lanjuti.
Tetapi hasil dari perjuangan Nek Gam dalam peningkatan Sumber Daya Manusia tersebut belum dapat sepenuhnya kita nikmati di Nanggroe ini. Penjajahan, provokasi dst..nya di Aceh telah memicu Revolusi yang nyaris melenyapkan impian cita-cita harapan dihati, bukan hanya itu…. bak roda gila puluhan tahun konflik bersenjata silih berganti terus berputar tak terkendali di Bumi Serambi Mekkah ini. Sampai akhirnya energi dahsyat Tsunami 24 Desember 2004, menghentikan semua tragedi akut kemanusiaan ini melalui perjanjian damai setahun kemudian di Helsinki.
Sekarang saatnya kita semua ingin membangun aceh dengan pilar-pilar pendidikan Islami. Hanya melalui pendidikanlah warga nanggroe dari segala penjuru pedalaman bahkan yang jauh dipelosok gunung seulawah sekalipun dapat terangkat tinggi melalui prestasi, martabat dan budi pekerti. Tanpa harus memegang senjata membalas implikasi konflik dan sakit hati, mereka putra-putri Aceh sebaliknya justru akan berbicara di podium international nanti; “dengarkan kami, warga bumi yang lama terseret dalam arus konflik dan Tsunami, tetapi karena ridho dan kasih Illahi, dapat berdiri ditempat yang mulia ini, dengan satu kata yang terhujam pasti… damailah kita semua penghuni dunia fana milik Allah yang Maha Kuasa ini…….”
Semoga…..semoga…….dan….semoga.




Nyakwa Potjut Hj.Fatimah Zohra Peusangan, lulusan Kweekschool “Putri Aceh yang pertama mengajar di Sekolah Belanda” hal ini atas restu Nek Gam dan ijin Gubernur Jendral saat itu (=Nyakwa menceritakan hal ini kepada saya di Pondok Pinang Jkt)
Bang Johan,
Mari kita jadikan Aceh “MARILAH” (berMArtabat Indah beriLmu tinggi & berAHlak) yang menjadi perhatian semua pihak, bukan saja perhatian segelintir orang.
Semoga naggroe geutanyo dapat menjadi “sesuatu” yang kita idam idamkan selama ini.
Wass. (H. T. Alexander A. Amzul, SE. MM.)
http://www.geocities.com/alexamzul2003/index.htm
Selamat….dan mantap,
Bisa Bang Maun ceritakan sedikit tengtang tokoh di peusangan Teuku Haji Ma’Ali saya dengar sebagai khadi di sebelum pusa terbentuk di peussangan…dan salah satu tokoh dari pembentukan yayasan al muslim. terima kasih dan wassalam
terima kasih
bang, tlng krmkan logo universitas ke alamat e-mail saya dong… http://www.ground_vw@yahoo.co.id.