TEUKU TJHIK MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH DALAM LINTASAN REVOLUSI ACEH, Oleh: Dr.Teuku Mohamad Isa
Episod 5
MEMBINA PENDIDIKAN DAN MEMBANGKITKAN SYIAR ISLAM
Setelah resmi menjadi zelfbestuur Peusangan, Teuku Tjhik Peusangan memantapkan hati untuk tetap bertekad menghadapi Belanda dengan cara diplomatis. Sungguh pahit rasanya berada sebagai orang yang terpojokkan dalam berhadapan dengan kekuasaan Belanda.
Walaupun demikian, segala pahit getir yang sudah dialami bangsa Aceh dalam perang bangsa Aceh melawan Belanda, disimpan dilubuk hatinya yang sangat dalam. Uleebalang Peusangan ini sudah bertekad menggusur Belanda melalui ilmu mereka sendiri. Maka, tak ada jalan lain kecuali secara sungguh-sungguh mengambil-alih ilmunya sebanyak-banyaknya. Jalan terbuka secara legal yang diakui Belanda adalah melalui pendidikan formal.
Untuk menembus rasa kecurigaan dan kebencian yang sudah berurat-akar dalam hati sanubari rakyat Aceh akibat ulah Belanda dalam perang Aceh melawan Belanda, maka Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah segera mengambil jalan pintas. Uleebalang ini menunjukkan sendiri contoh tauladan cara menghadapi penjajah Belanda kepada rakyatnya. Orang Aceh pasti dapat mengusir Belanda bilamana mampu mengambil alih ilmunya.
Kelak, kebijakan dan firasat tajam uleebalang muda Peusangan tersebut terbukti benar. Perwujudan kebijakan langsung dikerjakannya. Langkah pertama adalah membina dan mendidik putra-putri serta kerabat terdekatnya. Putra-putrinya langsung dicemplungkan kedalam pusaran kebudayaan Belanda, tetapi dengan bijaksana putra-putri uleebalang Peusangan itu tetap dibekali kebudayaan Aceh yang berintikan Islam.
Maka, seluruh putra-putri Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah yang terdiri atas 3 orang putra dan 4 orang putri bergembira melangkahkan kakinya ke pundi-pundi ilmu pengetahuan milik Belanda. Putra-putrinya diajak bertamasya kealam pendidikan Belanda. Mereka sangat senang, dan terbuai dalam cita-cita ayahandanya. Seluruh putra-putri uleebalang Peusangan inipun disekolahkan di sekolah dasar Belanda, ELS di Kutaraja.
Sekolah ini menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Maka, putra-putri uleebalang Peusangan tersebut terpaksa ditempatkan dilingkungan yang memaksa mereka menggunakan bahasa Belanda. Akhirnya, mereka mondok (in de kost) di Kutaradja pada seorang Belanda totok, seorang sersan tentara Belanda yang pernah bertugas di nanggroe Peusangan. Orang Belanda ini sudah dikenal baik sebelumnya oleh uleebalang Peusangan itu. Semua putra-putri Teuku Tjhik Peusangan berhasil sepenuhnya menyadap ilmu orang Belanda. Disamping itu mereka tetap bertingkah laku yang agung, baik dalam pandangan budaya Belanda maupun dalam pandangan budaya bangsa Aceh. Tak seorangpun dari putra-putri uleebalang ini hanyut dalam arus negatif budaya Belanda, apalagi menjadi pecandu minuman keras atau yang lainnya.
Keberhasilan putra-putrinya dalam menempuh pendidikan, sangat membahagiakan Teuku Tjhik Peusangan. Semua putra Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah, yaitu Teuku M. Hasan, Teuku M. Saleh dan T. Abubakar serta putrinya, Potjut Ramlah, Potjut Fatimah Zohra, Potjut Maimunah dan Potjut Aminah dapat menyesaikan pendidikannya di ELS–Kutaraja dengan baik. Kecuali Potjut Ramlah, putri tertuanya yang calon permaisuri uleebalang Keureutau, seluruh putra-putri Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah menyelesaikan pendidikan menengah di HBS di kota Medan.
Kemudian putra tertuanya, Teuku Muhammad Hasan, putra mahkota nanggroe Peusangan, melanjutkan pendidikan tingginya di RHS (sekolah tinggi hukum) di Batavia atau Betawi. Studen RHS ini belajar dengan tekun dan dia menjauhi hiruk-pikuk kehidupan politik yang sedang bergelora di tanah Jawa. Ayahnya membekalinya f.200,- setiap bulan. Untuk kenyamanan tinggal dan belajar, putra Teuku Tjhik Peusangan ini membeli sebuah rumah sederhana seharga f. 200,- di Jalan Gereja Theresia.
Pada akhir minggu kediaman Teuku M. Hasan menjadi tempat berkumpul kawan-kawannya. Diantara kawannya yang sering bertandang adalah Teuku Jusuf Muda Dalam, putra uleebalang Bambi-Unoe yang sedang belajar di Landbouwschool-Bogor. Putra uleebalang Bambi-Unoe ini hanya mendapat f.15,- perbulan dari ayahnya. Terdesak oleh kebutuhan hidup sehari-hari, putra uleebalang Bambi-Unoe sering minta pinjam uang pada putra Teuku Tjhik Peusangan yang hidup dalam kecukupan.
Tentu saja kebiasan anak manusia yang sulit dihilangkan hinggap pula pada anak muda studen Landbouwschool itu, yaitu mudah meminjam sulit melunasi. Satu saat Teuku Jusuf Muda Dalam ditegur keras oleh Teuku M. Hasan, karena kebiasan buruknya yang tak mau melunasi hutang. Peristiwa ini menjadi kenangan pahit bagi studen Landbouwshool itu. Dan tanpa diduga, peristiwa ini merubah jalan hidup Teuku Jusuf Muda Dalam. Dirundung rasa malu yang sangat dalam karena kemiskinannya, dia bertekad akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.
Waktu yang dinantikannya tiba sudah. Usai belajar di Landbouwschool, tanpa banyak pertimbangan dia memutuskan untuk belajar ilmu dagang di Handelshogeschool di Rotterdam-Belanda. Dia ingin membuktikan, bahwa diapun mampu mengumpulkan uang sebanyak banyaknya. Di era Presiden Soekarno, Jusuf Muda Dalam terpilih menjadi direktur utama Bank Negara Indonesia 1946. Mendengar Teuku M. Hasan telah manjadi pegawai BNI 1946 di Medan, maka Jusuf Muda Dalam segera melucur ke Medan.
Sungguh diluar dugaan, Teuku M. Hasan, putra Teuku Tjhik Peusangan yang sudah ternista oleh kaum ulama PUSA, menjadi sasaran dendam kesumat Jusuf Muda Dalam. Ketika berhasil menjumpai Teuku M. Hasan, saat itu juga dipecatnya putra uleebalang Peusangan itu dari BNI 1946. Dalam keadaan lunglai putra mahkota nanggroe Peusangan, yang hidup flamboyan di era Hindia Belanda, kembali ke asalnya, keluarga besar Peusangan. Itulah hasil pergaulannya dengan seorang studen Landbouwschool-Bogor. (terlampir surat T. Tjhik Peusangan ke Teuku M. Hasan mengenai kekecewaannya dengan J.M.D)
Akan hal rumahnya di Jalan Gereja Theresia, Weltervreden (daerah elite Menteng–Jakarta), menjelang pendaratan tentara Jepang di Jawa, dihadiahkannya kepada Teuku Jusuf – cucu uleebalang Seuleumak, kerabat iparnya Teuku Tjhik M. Basjah Keureutau. Sayang rumah ini dijual oleh Teuku Jusuf Seuleumak, studen GHS (sekolah dokter Belanda), pada masa penjajahan Jepang. Padahal di era Orde-Baru rumah ini bernilai tak kurang dari satu juta dollar Amerika Serikat.
Seorang kakak perempuan Teuku M. Hasan, Potjut Fatimah Zohra melanjutkan pelajaran di Sekolah Guru Tinggi di Lembang–Bandung. Adik perempuan lainnya, Potjut Maimunah belajar di Sekolah Akademi Guru –PAMS. Sekarang tahun 2006, gedung sekolah ini telah dijadikan rumah sakit Cikini, milik dewan gereja kristen Indonesia. Asal-usulnya gedung itu adalah rumah milik Raden Saleh pelukis Jawa yang terkenal di Eropa.
Potjut Maimunah, semasa belajar di HBS–Medan, merasa perlu memperbaiki bahasa Jermannya. Maka, dia memilih in de kost pada sebuah keluarga orang Jerman bernama Schipper. Selama belajar di HBS dia mencatat pengeluaran bulanannya. Untuk uang sekolah f.22.50, untuk in de kost f.50, untuk uang saku f.10, total pengeluaran minimal f.82.50. Sungguh berat beban yang harus dipikul oleh Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah untuk membiayai ke 7 orang putra- putrinya.




Seru AAAAAAAAbis nostalgia yang dihadirkan Bang Johan, sesuai cerita ibunda tersayang, dengan masuknya Jepang tahun 1943 maka Putri&Putra Bontot Ampon Syik tidak dapat menyelesaikan HBS-nya, dan anak Bontot ini ikut dengan Ampon Syik ke Manggaya Nozar Takengon(=salah nggak??? maaf tdk hapal namanya).
Berdasarkan buku sejarah Aceh yang saya baca, memang tahun 1885-1898, pada saat Nek Gam lahir dan berkembang, juga dikenal dengan Masa Keruntuhan kesultanan Aceh.
Sekalipun dapat mengalahkan tentera Belanda pada Expeditie pertamanya di 1873, tetapi tahun tahun setelah itu Kerajaan Aceh berangsur angsur runtuh. Bantuan dari Turki tak kunjung datang, sementara Inggris di Penang/Malaya masih tidak dapat diyakinkan untuk tidak membantu Belanda.
Ditambah dengan blokade kapal modern dilengkapi dengan persenjataan artileri yang lengkap, daerah daerah pantai di Aceh betul betul dibuat tidak berdaya. Tidak dapat berdagang, dan sewaktu waktu daerah tersebut selalu dapat diancam dengan bom artileri kapal Belanda. Maka terpecahlah Aceh menjadi kelompok orang orang yang kebanyakan keluaran Dayah (Pesantren) yang tetap menganggap bahwa Tuhan akan selalu membantu umatnya melawan orang kafir, dan kelompok pemuka adat / ulebalang yang merasa bahwa sudah saatnya bekerjasama dengan Belanda dan mencoba meraih ilmunya yang nantinya dapat digunakan untuk mengusir Belanda tersebut.
Sehingga dapat dimenegerti mengapa Nek Gam begitu “keras” dan “spartan” mendidik putra-putrinya untuk mendapatkan pendidikan Belanda tersebut. Dapat dibayangkan bahwa pada zaman itu (bukan zaman MTV seperti sekarang) bukan hal yang gampang pada usia sedemikian muda sudah dipaksa tinggal indekost di rumah orang Belanda. Saya cukup terharu membaca kembali kisah kisah orang tua kita ini yang dapat menjadi suri tauladan kita. Kalau dilihat sekarang saja, banyak anak anak Jakarta yang sekolah di Bandung, tiap minggu masih pulang ke rumah orang tuanya. Bayangkan orang orang tua kita yang merantau, belajar dan hidup dengan orang asing dan berbulan bulan tidak bertemu dengan orang tua dan adik ataupun kakaknya. Sepertinya “kekesalan” karena “kekalahan” dan “ketertinggalan” terhadap Belanda membentuk nenek dan orang tua kita seperti itu.
Azmy, Syamaun nice comment. Ay.TM.Isa juga mengharap komentar untuk penyempurnaan buku ini saat naik cetak. Kita akan meminta ke PEMDA Bireuen, dan Al-Muslim tentunya agar buku ini menjadi literature/buku pegangangan disana mengenai sejarah peusangan.
salam………
kenal ……tgk…..terimeng geunaseh ateuh sejarah yg ka neutukeeh…
tgk..tatuka2 link ok…tukar-tukar link ya……
Wa’alaikum Salam Pak Ubaidillah
Terimeng geunaseh kembali senang meuturi ngen gata, jeuet geutanyo tukar-tukar link
Wassalam
Johan Peusangan
Saya sangat tersinggung dengan pernyataan penulis diatas, karena kata2 penulis telah membelokkan sejarah yg benar, saya adalah salah seorang cicit sah teuku said umar abdul azis( AMPON CHIK SUNGAI RAYA ) yg penulis tulis sebagai umar abdul azis, tanpa gelar kebangsawanan aceh. (TLG JGN HANYA PENULIS SAJA YANG MERASA BANGSAWAN DAN BERGELAR!)
Teuku Ramsyah Syarif mempunyai istri yang bernama POCUT SYAFUANUL MARDIAH yang merupakan anak dari AMPON CHIK SUNGAI RAYA, yang penulis tulis sebagai BUNDA NUR. Dan Tidak memiliki anak, Sementara dalam tarombo keluarga saudara penulis tuliskan memiliki anak yang bernama UCOK RAMSYAH. Hal seperti ini menyebabkan kesalahan penafsiran sejarah yg dapat menyebabkan perpecahan dalam keluarga.
Dalam tulisan diatas jg disebutkan bahwa Teuku Ramsyah Syarif pernah menjadi supir bus musiman dan telah berubah menjadi seorang sufi yg bermakam tinggi, hal ini sangat tidak benar karena setelah menikah Teuku Ramsyah Syarif berada bersama keluarga AMPON CHIK SUNGAI RAYA dan menjadi salah seorang PENGUSAHA angkutan Mobil bus ARS sebanyak 6 unit, bukan sebagi supir bus musiman.
Demikian halnya jg bahwa di akhir hayatnya Teuku Ramsyah Syarif semasa sakitnya berada di rumah org tua saya POCUT VERA DJAFAR dan meninggal di RS. MALAHAYATI Medan, bukan di rumah beliau, dan dalam kepengurusan pemakaman Teuku Ramsyah Syarif yang mengurus adalah Keluarga AMPON CHIK SUNGAI RAYA, dan beliau mmg dimakamkan di pemakaman Sultan Deli Mesjid Raya Medan tetapi bukan disebelah makam Teuku Chik Johan Alamsyah melainkan di sebelah makan POCUT FAUZIAH DJAFAR yang merupakan Makam Nyakwa Saya.
APAKAH SAUDARA PENULIS PERNAH BERZIARAH KE MAKAM BELIAU??
MEMBACA TULISAN SAUDARA SAYA SAMA SEPERTI MEMBACA BUKU CERITA KOPINGHOO, YANG ISINYA MERUPAKAN KHAYALAN PENULIS SAJA TANPA MEMPUNYAI REFERENSI DAN TIDAK MENDAPATKAN INFORMASI DARI SUMBER YANG BENAR.
Dalam hal ini Saya tidak mempersalahkan Sejarah mengenai PEUSANGAN walaupun saya sebenarnya sangat-sangat tahu BAIK DAN BURUKNYA SEJARAH KELUARGA PEUSANGAN, kecuali sejarah Teuku Ramsyah Syarif karena sejarah yang penulis tulis tentang beliau telah menyimpang dari sejarah yang benar.
Terima Kasih
Wassalam,