Johantm Weblog

Merangkai sejarah Peusangan

TEUKU TJHIK MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH DALAM LINTASAN REVOLUSI ACEH Oleh: Dr.Teuku Mohamad Isa

People of Aceh is prohibited to study in Military Academy Nederland under “ Teuku Muhammad Djohan Alamsjah within the tracing of  Revolution in Atjeh”  Descendants of Teuku Tjhik Peusangan

Episod 6 

BANGSA ACEH DILARANG SEKOLAH DI AKADEMI MILITER BELANDA.

 

        Sesuai dengan kebanggaan pada zaman itu, putra-putra uleebalang Aceh dan kerabatnya berlomba menembus benteng aturan Belanda untuk menjadi kadet Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, Negeri Belanda. Pada masa Hindia Belanda ada aturan tak tertulis, orang Aceh tak diperkenankan masuk militer Belanda. Apalagi masuk KMA Breda, di negeri Belanda. Walaupun demikian, kaum bangsawan muda Aceh tetap berusaha mereguk ilmu militer Belanda sedalam-dalamnya. Tentu saja target terakhirnya orang bangsawan ini adalah merebut kembali kemerdekaan tanah Aceh. Belanda tentu saja tidak mau kecolongan. Semua celah peluang untuk orang Aceh itu ditutupnya. Dilain pihak petinggi Belanda selalu memperlakukan mereka dengan sopan santun.

        Terbawa oleh arus zamannya setamat AMS di Jogyakarta, Teuku Abdul Aziz bersama 3 orang putra bangsawan Aceh lainnya, yaitu:

1.      Teuku Teungoh Hanafiah, putra Teuku Muda Jusuf, uleebalang Simpang Ulim,

2.      Teuku Akbar, putra seorang uleebalang didaerah pantai barat Aceh. Dia    tertawan ketika masih bocah umur 8 tahun oleh Kapten Berenschot di medan pertempuran antara pasukan marsose Belanda dengan lasykar kerajaan Aceh,

3.      Teuku Jusuf, cucu Teuku Bentara Seuntang uleebalang Seuleumak,

berempat mereka menempuh ujian masuk KMA (Koninklijke Militairie Academie) di Breda.

Semua perintang dalam ujian itu dapat dilalui putra bangsawan itu  dengan hasil sangat memuaskan. Apakah masih ada alasan “Panitia Ujian Seleksi” masuk KMA itu menolaknya?. Secara profesional dan administratif, jawabnya tidak. Alhasil ke-4 orang pemuda Aceh itu diterima menjadi kadet KMA. Hasil ini sungguh mengejutkan bagi putra-putra terbaik Aceh itu, maka meledaklah kegembiraan mereka.

        Jenderal Berenschot, panglima  KNIL (tentara Hindia Belanda) dengan tenang masuk keruang kerjanya, di Markas Besar KNIL, di Bandung. Ajudannya telah menyiapkan laporan rahasia dari Kantor BB (departemen dalam negeri Hindia Belanda) dimeja panglima KNIL itu. Jenderal Berenschot membaca seluruh laporan itu dengan teliti, kasus demi kasus. Sungguh terperanjat Jenderal KNIL itu. Lebih terperanjat lagi dibuatnya, ketika menyaksikan bocah Aceh -mantan tawanannya yang saat itu berumur 8 tahun- lulus ujian kadet KMA.

 Dipendamnya dilubuk hati terdalam segala pengalaman pahit di medan pertempuran Aceh. Terlintas dibenaknya, Angkatan Perang Kerajaan Belanda dimasa akan datang harus berhadapan lagi dengan orang muda reinkarnasi Teuku Umar, sang pahlawan Kerajaan Aceh. Walaupun demikian, ajudannya diperintahkannya untuk mempersilahkan ke-4 orang anak muda Aceh itu masuk ke ruang kerjanya.

Dengan  kesopanan seorang Jenderal Kerajaan Belanda, Jenderal Berenschot mempersilahkan ke-4 orang putra bangsawan Aceh itu untuk mengambil tempat duduknya masing-masing dihadapan meja kerjanya. Pembicaraanpun dibukanya, Jenderal Belanda itu atas nama Angkatan Perang Hindia Belanda dan atas nama Sri Ratu Belanda mengucapkan kata-kata terima kasihnya atas kesediaan mereka bergabung dengan angkatan perang Kerajaan Belanda, serta mengucapkan selamat atas kelulusan  mereka menjadi kadet KMA–Breda di Negeri Belanda.

Pada akhir ukiran kata-kata yang indah itu, Jenderal Berenschot menutup  dengan kalimat pendek yang sangat menyejukan bagi Kerajaan Belanda. Ledakan kalimat pendek itu, sungguh bagaikan  sejuta kali kekuatan letusan Gunung Krakatau tahun 1883  bagi ke-4 bangsawan muda Aceh itu. Seluruh impian cucu Teuku Tjhik Sjamaun bersama ke 3 bangsawan Aceh itu, laksana terlempar kesisi kursi pemilik alam semesta  dilapisan langit ke-7.

Panglima KNIL itu berkata:  “Sungguh sayang, saya terpaksa menyatakan dengan berat hati, tuan-tuan Teuku Abdul Aziz, Teuku Teungoh Hanafiah, Teuku Akbar, Teuku Jusuf, tidak dapat kami terima di Akademi Militer Kerajaan Belanda”. Dihelanya dalam-dalam nafasnya, kemudian disambungnya kata-kata yang terputus oleh rasa lelahnya . “Karena tuan-tuan ber ‘BANGSA ACEH’, itu saja alasannya”. “Kecuali satu hal, jika tuan-tuan dapat memperoleh surat jaminan tertulis dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, maka tuan-tuan akan kami terima di Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda”.

“Walaupun demikian”, sambung Jenderal Belanda itu lagi. “Tuan-tuan dapat diterima di sekolah tinggi kedokteran, atau hukum, atau pertanian, ataupun pamongpraja”. Jenderal Berenshot menyudahi pembicaraannya dengan penuh kesopanan Belanda: “Saya sangat senang telah bertemu dengan tuan-tuan hari ini, dan saya menunggu dengan sangat jaminan tertulis untuk tuan-tuan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda”.

Dalam keadaan gontai ke-4 orang anak muda Aceh itu keluar dari kamar kerja panglima KNIL itu. Dengan bibir gemetar ke-4 anak muda itu segera menelpon handai-tolannya masing–masing, melaporkan hasil ujian seleksi masuk KMA di Breda. Mereka mendesak kaum kerabatnya masing-masing membawa tempurung, datang menghadap Gubernur Jenderal Hindia Belanda, untuk mendapat rekomendasi masuk KMA-Breda bagi mereka.

Kecuali Teuku Tjhik Peusangan, seluruh kerabat uleebalang Aceh yang putranya tergila-gila akan kadet KMA-Breda itu, menjawab singkat permintaan putranya itu: “Apakah kamu anakku akan mati kelaparan, kalau tidak menjadi serdadu Belanda?”. Kerabat uleebalang Aceh sangat menginsafi posisinya masing-masing berhadapan dengan musuh bebuyutannya itu. Mereka tidak mau larut dalam buih sopan-santun Belanda .

         Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah yang rendah hati itu dan sudah bertekad mengabisi Belanda dengan ilmunya sediri, segera berusaha memenuhi permintaan T.A. Aziz - kemenakannya itu. Gayungpun bersambut, Teuku Tjhik Peusangan datang menemui Dr. Van Aken. Permintaan Teuku Tjhik Peusangan disambut baik oleh  Gubernur Belanda di Aceh. Dr. Van Aken segera mengirim surat kawat (telegram) rahasia kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, mengabarkan perihal permintaan Teuku Tjhik Peusangan, sekutu Belanda di Peusangan.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda bersama dengan beberapa penasehatnya membahas dengan cermat surat kawat Dr. Van Aken yang juga menjabat anggota Dewan Hindia. Akhirnya permintaan Teuku M. Djohan Alamsjah, sahabat pribadi Dr. Van Aken, oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda diberi formula baru.

 Permintaan Teuku Tjhik Peusangan tidak dinyatakan ditolak. Dalam formula baru ciptaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, T.A. Aziz dipaksa berangkat ke kota Sukabumi, menjadi kadet Akademi Polisi Kerajaan Belanda. Artinya, Akademi Militer Belanda tetap tertutup bagi bangsa Aceh.

Sejarah mencatat, kelak kemenakan Teuku Tjhik Peusangan ini tampil menjadi orang nomor dua dalam jajaran kepolisian Republik Indonesia. Suratan tangannya mengantarkan T.A. Aziz  sebagai Wakil Panglima Angkatan Kepolisian Republik Indonesia  masa orde-barunya Soeharto. Akan hal ketiga orang kawannya, putra bangsawan Aceh itu, mereka tampil sebagai orang profesional terkemuka dibidangnya masing–masing di era Negara Republik Indonesia .

        Jenderal Berenschoot, Panglima KNIL merasa sangat puas, karena dapat menyingkirkan ke-4 orang muda bangsawan Aceh, musuh potensial Kerajaan Belanda dari arena gudang ilmu militer. Sungguh sayang, rasa puas sang jenderal tak dapat berlangsung lama. Tanpa terduga seorang bangsawan Aceh lainnya berhasil menyusup kekamar tidurnya. Bangsawan muda Aceh itu adalah, Teuku Tjhik Ali Akbar -uleebalang Kaway XVI- Aceh Barat, murid OSVIA Bandung.

Dengan senyum pahit, Teuku Tjhik Ali Akbar terpaksa diterimanya menjadi menantunya. Rupanya putri sang jenderal yang dibesarkan dalam medan pertempuran militer Belanda di wilayah Aceh Barat, sudah tak dapat lagi melepaskan diri dari kenikmatan menu para gerilyawan Kerajaan Aceh.

Akhirnya, ketika serdadu Jepang mendarat di pantai Barat Aceh tahun 1942, menantu Jenderal Belanda ini menjadi tumbal kebengisan serdadu Jepang. Sayed Abubakar, kader PUSA yang menjadi anggota Fujiwara Kikan memberi petunjuk khusus kepada serdadu Jepang untuk mengantarkan uleebalang Kaway XVI menemui Sang Penciptanya di langit ke-7.

Seorang uleebalang lain dipantai barat Aceh, uleebalang nanggroe Trumon (Bakongan) juga ikut tergaet noni Belanda.  Maka, noni Belanda itupun menjadi isteri  uleebalang Trumon (Bakongan). Kenyataan beberapa uleebalang Aceh beristerikan perempuan Belanda tentu saja menjadi bumerang bagi kaum uleebalang. Untuk meningkatkan kebencian rakyat Aceh terhadap kaum uleebalang, dalam kurun waktu hegemoni kaum ulama PUSA tahun 1945-1950, yel-yel bertajuk uleebalang = menantu Belanda berkumandang dengan dahsyat diseluruh pelosok tanah Aceh.

        Berita penolakan Belanda terhadap 4 orang bangsawan Aceh ini untuk masuk KMA Breda segera menyusup kedalam 102 keluarga uleebalang Aceh. Dan tak terbendungkan lagi, berita itu segera pula menjadi legenda rakyat Aceh. Legenda inipun segera menjadi bumbu tambahan kebencian terhadap Belanda.

Legenda rakyat Aceh ini bergulir menjadi inspirasi bagi Dr. Teungku Hasan di Tiro untuk mendirikan KMA-Aceh di Libya pada tahun 1980. Koninklijke Militairie Academie yang artinya akademi militer kerajaan tetap dilanjutkan. Bedanya, bila dahulu hanya Belanda pemilik mimpi itu, kini mimpi orang Aceh terwujudkan. Muamar Khadafi, pemimpin Libya membantu sepenuhnya KMA-Aceh itu. Guru dan instrukturnya didatangkan langsung dari negara Rusia. Itulah buah tangan Muamar Khadafi untuk mewujudkan mimpi bangsa Aceh…. bersambung ke episod 7.

April 21, 2008 - Ditulis oleh Johan Peusangan | Sejarah T. Tjhik Peusangan | | 3 Komentar

3 Komentar »

  1. Dari satu sisi penolakan ini bisa juga disyukuri, dengan alasan sbb:

    Semua kadet Breda harus menyampaikan sumpah untuk setia pada Sri Ratu dan bendera Triwarna (Merah-Putih Biru).

    Sejarah mencatat sampai dengan sebelum PD-2, hanya ada 21 orang Indonesia yang mengecap pendidikan di KMA Breda. Hampir semuanya adalah anak bangsawan serta beberapa anak petinggi militer Ambon. Tiga diantaranya tidak diluluskan karena tindakan indispliner, seperti ikut aktif pada organisasi Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (dibawah pimpinan Hatta) di Belanda.

    Para perwira ini (tahun kelulusan 1921 – 1940) hampir semua menolak untuk bergabung dengan tentara Jepang (1942) maupun tentera Republik (1945), dengan alasan sumpah tersebut di atas. Hanya sebagian kecil bergabung seperti Rd. Didi Kartasasmita di Angkatan Darat, atau Rd. Soeriadarma yang pernah menjadi Kasau. Menurut mereka sumpah yang pernah diucapkan itu telah berakhir dengan menyerahnya Hindia Belanda kepada Jepang dalam waktu kurang dari 3 bulan (Menunjukkan juga bahwa kebijakan Belanda yang mendiskriminasi dan membatasi pendidikan perwira Indonesia, hanya melemahkan pertahanan Belanda sendiri).

    Barulah di tahun 1940, setelah Belanda menyerah kepada Jerman (juga dalam pertempuran hanya 10 hari saja) dan Breda ditutup, dibentuklah CORO (Corps Opleiding voor Reserve Officieren = Korps Pendidikan Perwira Cadangan) yang kadang dikenal sebagai KMA Bandung. Seperti kita ketahui lulusannya seperti A.H. Nasution, T.B. Simatupang dan A.E. Kawilarang merupakan cikal bakal TNI modern.

    Di kemudian hari dibentuklah Akademi Militer Nasional / Akabri di Magelang, dan di zaman dimana Polri masih bagian dari TNI, salah satu cucu T. Tjhi Peusangan juga menjadi kadet Kepolisian. Kadet tersebut sekarang menjabat Kapolda Bali yaitu Mayjend Pol. Drs. T. Ashikin.

    Mengenai pendirian KMA di Libya, menurut saya ini merupakan suatu anekdot sesuai dengan suasana zaman tersebut. Kita juga pernah mendengar bahwa banyak anak Aceh tidak lulus ujian masuk AMN, karena mereka gagal dalam ujian berenang. Katanya hal itu disebabkan di Aceh pada waktu itu tidak ada kolam renang, karena syariat Islam tidak memperbolehkan kolam renang. Sampai kemudian dibangun kolam renang di Aceh di zaman M. Yusuf jadi Pangab. Wallahualam.

    Apapun bentuknya, apakah lulusan AMN, lulusan Libya atau lulusan pedalaman / pegunungan, semuanya harus bisa bekerja sama dengan baik di Aceh yang baru ini. Dalam hal ini kita dapat menarik pelajaran mengenai bagaimana TNI bisa dibentuk dari lulusan KMA Breda atau Bandung, dari prajurit ex KNIL, ex tentera Peta / Heiho ataupun ex Tentera Pelajar.

    Komentar oleh Syamaun Peusangan | Mei 21, 2008

  2. Saya tidak tahu apakah komentar lama bisa diedit lagi (mohon bantuannya b Johan), tetapi dibawah ini koreksi yang penting (thanks Azmy) dan mohon maaf ke cubang atas kesalahan penamaan / kepangkatan atau titulatur lainnya:

    Penamaan yang lengkap adalah:
    Irjend (Inspektur Jenderal) Pol. Drs. T. Haji Ashikin Husein SH.

    Sedikit tambahan cerita:

    Masih di kwartal pertama abad XIX, sebelum terbentuknya KMA Bandung, di sekitar Meester Cornelis (Jatinegara sekarang) pernah berdiri Inlandsche Officieren School, yang merupakan sekolah calon perwira KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger). Salah seorang lulusannya adalah Jenderal Oerip Soemohardjo, yang bersama dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah bapak TNI. Oerip yang pangkatnya mentok di Letnan Kolonel (karena diskriminasi) KNIL, direkrut kembali oleh TNI setelah proklamasi dan dinaikkan pangkatnya.

    Setelah penyerahan kedaulatan di akhir tahun 1949, maka mulailah dikirim anak anak Indonesia kembali ke KMA Breda. Kalau tidak salah, lulusan terakhir angkatan ini adalah Jenderal Rudini serta Laksamana Soedomo (lulus tahun 57-58). Baru pada tahun 1960 AMN meluluskan angkatan pertamanya, dan lulusan terbaik angkatan tahun 1960 adalah Jenderal Edi Soedradjat. Sekedar penutup ulasan ini, Jenderal Soesilo Bambang Yudhoyono adalah lulusan terbaik tahun 1973, kakak kelas dari cubang Ashikin.

    # Thanks Sam, komentarnya dapat memaknai lebih dalam tulisan Sejarah T. Tjhik Peusangan untuk dapat kita pedomani baik yang tersurat maupun tersirat demi kebaikan kita bersama baik di Peusangan maupun di Nanggroe Aceh…., dan berhubung sudah dikoreksi penamaan/titulatur Cubang Ashikin maka komentar lama rasanya tidak perlu diedit..tanggapan Johan Peusangan

    Komentar oleh Syamaun Peusangan | Mei 22, 2008

  3. Saya sangat tersinggung dengan pernyataan penulis diatas, karena kata2 penulis telah membelokkan sejarah yg benar, saya adalah salah seorang cicit sah teuku said umar abdul azis( AMPON CHIK SUNGAI RAYA ) yg penulis tulis sebagai umar abdul azis, tanpa gelar kebangsawanan aceh. (TLG JGN HANYA PENULIS SAJA YANG MERASA BANGSAWAN DAN BERGELAR!)

    Teuku Ramsyah Syarif mempunyai istri yang bernama POCUT SYAFUANUL MARDIAH yang merupakan anak dari AMPON CHIK SUNGAI RAYA, yang penulis tulis sebagai BUNDA NUR. Dan Tidak memiliki anak, Sementara dalam tarombo keluarga saudara penulis tuliskan memiliki anak yang bernama UCOK RAMSYAH. Hal seperti ini menyebabkan kesalahan penafsiran sejarah yg dapat menyebabkan perpecahan dalam keluarga.

    Dalam tulisan diatas jg disebutkan bahwa Teuku Ramsyah Syarif pernah menjadi supir bus musiman dan telah berubah menjadi seorang sufi yg bermakam tinggi, hal ini sangat tidak benar karena setelah menikah Teuku Ramsyah Syarif berada bersama keluarga AMPON CHIK SUNGAI RAYA dan menjadi salah seorang PENGUSAHA angkutan Mobil bus ARS sebanyak 6 unit, bukan sebagi supir bus musiman.

    Demikian halnya jg bahwa di akhir hayatnya Teuku Ramsyah Syarif semasa sakitnya berada di rumah org tua saya POCUT VERA DJAFAR dan meninggal di RS. MALAHAYATI Medan, bukan di rumah beliau, dan dalam kepengurusan pemakaman Teuku Ramsyah Syarif yang mengurus adalah Keluarga AMPON CHIK SUNGAI RAYA, dan beliau mmg dimakamkan di pemakaman Sultan Deli Mesjid Raya Medan tetapi bukan disebelah makam Teuku Chik Johan Alamsyah melainkan di sebelah makan POCUT FAUZIAH DJAFAR yang merupakan Makam Nyakwa Saya.
    APAKAH SAUDARA PENULIS PERNAH BERZIARAH KE MAKAM BELIAU??

    MEMBACA TULISAN SAUDARA SAYA SAMA SEPERTI MEMBACA BUKU CERITA KOPINGHOO, YANG ISINYA MERUPAKAN KHAYALAN PENULIS SAJA TANPA MEMPUNYAI REFERENSI DAN TIDAK MENDAPATKAN INFORMASI DARI SUMBER YANG BENAR.

    Dalam hal ini Saya tidak mempersalahkan Sejarah mengenai PEUSANGAN walaupun saya sebenarnya sangat-sangat tahu BAIK DAN BURUKNYA SEJARAH KELUARGA PEUSANGAN, kecuali sejarah Teuku Ramsyah Syarif karena sejarah yang penulis tulis tentang beliau telah menyimpang dari sejarah yang benar.

    Terima Kasih
    Wassalam,

    Komentar oleh Ferdian Syahputra | Agustus 15, 2008

Tinggalkan komentar