Johantm Weblog

Merangkai sejarah Peusangan

TEUKU TJHIK MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH DALAM LINTASAN REVOLUSI ACEH Oleh: Dr.Teuku Mohamad Isa

T. Tjhik H. M. Djohan Alamsjah gave all of his efforts to improve education in Nanggroe Peusangan Descendants of Ampon Chik Peusangan

Episod 7

TERUS MELANGKAH  MENCERDASKAN RAKYATNYA  

    Kita kembali lagi kekisah Peusangan. Dan sekarang terlihatlah seluruh kerabat uleebalang Peusangan merasa nyaman dalam arus ilmu pengetahuan Belanda. Maka, Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah tidak mendapat tantangan lagi dari dalam keluarganya sendiri dan kerabat uleebalang Peusangan. Dengan langkah yang ringan, tanpa membuang waktu Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah langsung mengayunkan langkah berikut ke proyek besarnya.

   Yaitu, mencerdaskan seluruh rakyatnya, rakyat nanggroe Peusangan. Rakyatnya ditariknya segera dari dalam gua kegelapan serta kebodohan dengan obor ilmu pengetahuan Belanda. Pendidikan rakyat model Belanda dikembangkannya. Secara bertahap dan pasti putra-putri rakyatnya dicerdaskannya melalui pendidikan formal. Gedung sekolah didirikannya, walaupun hanya dalam kondisi serba darurat, sesuai dengan uang yang berdering dikoceknya.

    Dalam waktu singkat berdirilah sekolah-sekolah yang sangat dasar di Matang Glumpang Dua. Orang Belanda menyebut sekolah itu volkschool. Orang Aceh menamainya -sekolah rakyat- kelas 3. Pemerintah Hindia Belanda di Aceh dengan senang hati membantu mewujudkan mimpi indah Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah itu.

    Kelangkaan tenaga guru memaksa uleebalang Peusangan mencari jalan pintas. Guru-guru diimport dari Negeri Minangkabau yang sudah lebih dahulu maju dalam pendidikan. Orang Minangkabau pertama yang membawa obor ilmu-pengetahuan Belanda ke Peusangan adalah pasangan suami isteri guru, Sutan Mangkudun dan isterinya Encik Rukiah. Suami-isteri guru ini berasal dari Maninjau.

    Dengan penuh dedikasi kedua suami-isteri guru ini mengajar membaca-menulis, ilmu berhitung, dan bahasa Melayu kepada anak-anak bangsa Aceh di Peusangan. Selang beberapa tahun kemudian, uleebalang Peusangan meminta kepada Sutan Mangkudun untuk mendirikan sekolah lanjutan bagi anak-anak tamatan vervolkschool.

    Melalui kesungguhan orang Maninjau suami-isteri itu,  muncul lagi di Peusangan sekolah baru, vervolkschool - sekolah rakyat kelas 5. Untuk memenuhi tenaga guru yang sangat mendesak, uleebalang Peusangan itu mengirim putra-putra Peusangan tamatan volkschool, belajar disekolah guru di kota Padang.

    Sementara itu muncul seorang guru yang sudah siap pakai, dia tamatan normalschool (sekolah guru berbahasa Melayu) di Pematangsiantar, namanya Sjamaun Gaharu. Uleebalang Peusangan sangat senang dibuatnya, dan langsung menempatkannya menjadi guru volkschool di Matang Glumpang Dua.

    Guru muda itu sangat kreatif dalam mendidik anak muridnya yang hampir seluruhnya terdiri dari anak petani. Melihat prestasi kerja guru muda itu yang sangat menonjol, maka Sutan Mangkudun mengusulkan kepada uleebalang Peusangan, supaya Sjamaun Gaharu diberi kesempatan belajar di Landbouwschool di Bogor.

    Teuku Tjhik Peusangan sangat setuju dengan usul Sutan Mangkudun yang bijak itu.  Orang Minangkabau itu menambahkan catatan khusus, bahwa ilmu pertanian yang diperoleh di Landbouwschool itu dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya. “Bukankah Ampon Tjhik berkehendak membangun proyek raksasa, membangun pertanian rakyat Peusangan secara besar-besaran?”, tambah Sutan Mangkudun menguatkan usulnya itu.

    Bagaikan mendapatkan durian runtuh, Teuku Tjhik Peusangan langsung mengambil alih gagasan itu. Maka, berangkatlah Sjamaun Gaharu belajar lagi di Landbouwschool di Bogor.

    Kelak, revolusi kemerdekaan Indonesia mengantarkan guru volkschool dan pemain sepak-bola yang sangat populer di Peusangan itu menjadi Panglima TKR/TNI-Aceh yang pertama. Sungguh diluar dugaan, nasib malang menimpa kedua pioner pembangunan nanggroe Peusangan itu. Kolonel TKR/TNI Sjamaun Gaharu dan Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah, keduanya menjadi tawanan di konsentrasi-kamp PUSA di tanah Gayo tahun 1946.

     Mengajak putra-putri rakyat Peusangan untuk bersekolah tidak selalu mulus. Sebagian rakyatnya menyatakan keberatannya untuk mengizinkan anaknya belajar disekolah kafir ini. Satu persatu orang tua murid tersebut diyakinkan oleh Teuku Tjhik Peusangan akan manfaat ilmu pengetahuan, guna melenyapkan kebodohan.

    Uleebalang itu menambahkan lagi, setelah kebodohan lenyap baru kemakmuran dan kesejahteraan datang menyongsong rakyat Peusangan. Pendekatan yang dilakukan Teuku Tjhik Peusangan sangat menyentuh hati rakyatnya. Namun kemudian giliran anak-anak orang Aceh yang menyatakan penolakannya, mereka melarikan diri dari sekolah.

    Teuku Tjhik Peusangan dengan penuh tawakal berusaha menghadapi tingkah-polah bocah-bocah Peusangan. Diantara bocah liar ini terdapat seorang bocah yang terlalu liar, namanya Muhammad Insya. Dia anak salah seorang petani di Matang Glumpang Dua. Dijinakkannya anak terliar orang desa itu, serupa dengan cara menjinakkan sapi-liar Aceh yang baru tertangkap dihutan rimba.

    Setiap hari bocah itu dijemput paksa oleh opas uleebalang Peusangan. Ditangannya dipasangkan borgol, sebelah lagi borgol dipasangkan pada lengan opas itu. Mata si bocah itu ditutup rapat dengan kain selendang berwarna hitam. Dalam keadaan mata tertutup dan tangan terborgol bocah Aceh itu setiap hari diantar kesekolahnya. Sesampai disekolah sang bocah duduk dibangkunya didampingi pengawalnya, opas uleebalang itu.

    Waktu berjalan terus, dan si bocahpun berangsur menjadi jinak, seperti sapi liar Aceh yang akhirnya terjinakan oleh waktu. Diluar dugaan, Muhammd Insya, anak liar ini akhirnya menjadi murid terpandai dikelasnya. Sutan Mangkudun, gurunya sungguh terperangah dibuatnya. Atas usul gurunya, anak liar yang cerdas itu, disekolahkan oleh Teuku Tjhik Peusangan kesekolah  berbahasa Belanda.

    Kemudian atas jaminan dan ongkos Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah pribadi, diapun menjadi studen di sekolah Akademi Kepolisian Kerajaan Belanda di Sukabumi, mengikuti jejak -kemenakan uleebalangnya- Teuku Abdul Aziz.

    Diawal revolusi kemerdekaan Indonesia, Muhammad Insya menjadi Panglima BKR/TKR/TNI pertama di Kresidenan Jambi. Kemudian dia ditunjuk menjadi Kepala Kepolisian Kresidenan Aceh pada tahun 1946. Drama sejarah yang sangat tragis terjadi pula. Pada masa awal tahun 1946,  Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah dituduh kaki-tangan Belanda oleh PUSA. Teuku Muhammad Amin, pemilik kios obat Pidie di Sigli, bendahara PUSA yang telah menjadi asisten bidang politik Residen Aceh, bersama pasukannya datang menangkap dan menjebloskan uleebalang Peusangan itu kedalam kamp konsentrasi PUSA di tanah Gayo.

    Kepala Kepolisian Kresidenan Aceh sebagai anak pungutnya itu, terpaksa berpangku tangan menyaksikan induk semangnya -Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah-  menjadi korban fitnah orang-orang PUSA yang sedang mabuk kemenangan. Kepala polisi dan induk-semang terpisahkan oleh kaca tebal kekuasaan kaum ulama PUSA. Itulah salah satu buah tangan Teuku Tjhik Peusangan dalam menghadapi Belanda secara  diplomatis.

     Merasa sudah cukup lama bekerja untuk Teuku Tjhik Peusangan, dan anak-anaknya sendiri sudah tumbuh besar, maka guru Sutan Mangkudun memberanikan diri untuk pindah kembali ke negeri Minangkabau. Uleebalang Peusangan itu sungguh terperanjat dibuatnya.

    Berbagai alasan dikemukakan guru Sutan Mangkudun, dan alasan yang paling utama adalah anak-anaknya   butuh bersekolah disekolah berbahasa Belanda. Dengan berbagai alasan guru itu tetap dibujuk oleh uleebalang Peusangan untuk bekerja mencerdaskan anak-anak pribumi nanggroe Peusangan. Hati suami-isteri guru itu sungguh luluh dibuatnya.

    Alibi keluarga Sutan Mangkudun sungguh sangat mengilhami uleebalang Peusangan itu. Tak lama kemudian Teuku Tjhik Peusangan mendesak Gubernur Belanda di Aceh untuk mendirikan HIS, sekolah dasar berbahasa Belanda, di kota Bireuen yang banyak dihuni tentara Belanda. Kini anak-anak kecil yang selama ini harus bersusah payah ke HIS Lhok Seumawe dengan kereta api ASS yang kuno itu, dapat belajar dengan nyaman di HIS Bireuen.

    Anak-anak guru Sutan Mangkudun juga belajar di sekolah Belanda itu. Akhirnya suami-isteri  guru yang penuh dedikasi dan sangat profesional itu menghabiskan seluruh sisa umurya di Peusangan. Dan Sutan Mangkudun beserta isterinya Encik Rukiah dimakamkan di nanggroe Peusangan.

    Setelah Teuku Tjhik Peusangan merasa dirinya sudah mulai berhasil membimbing rakyatnya keluar dari gua kegelapan dan  kebodohan dengan menggapai ilmu duniawi orang Belanda walau dalam kadar yang sangat minimal, maka uleebalang Peusangan itu berusaha mengembalikan marwah-martabat bangsa Aceh melalui ilmunya sendiri, ilmu dunia-akhirat, yaitu ilmu agama Islam.

     Seluruh ulama nanggroe Peusangan dirangkulnya, dan diajaknya menyokong mendirikan sekolah pendidikan agama Islam. Bagaikan tarikan magnit raksasa, dalam sekejap seluruh rakyat nanggroe Peusangan tersedot keterpihakkannya oleh ajakan uleebalang dan ulamanya membangun kembali syiar Islam di Peusangan. Dalam waktu singkat berdirilah sebuah gedung sederhana, tempat lembaga pendidikan formal agama Islam mewujudkan cita-citanya di Matang Glumpang Dua, ibu kota nanggroe Peusangan.

    Lembaga pendidikan ini diberi nama   Al Muslim. Dalam upacara yang cukup meriah pada tahun 1929, Perguruan Islam Al Muslim tersebut dibuka resmi oleh uleebalang dan ulama-ulama di nanggroe Peusangan. Dalam kemeriahan upacara itu, dengan penuh keceriaan tampil seorang putri berumur 14 tahun yang cantik jelita, memotong pita peresmian Perguruan Islam Al Muslim. Putri jelita itu adalah Potjut Ramlah, putri sulung Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah.    

Berbeda dengan Perguruan Normaal Islam milik kaum PUSA di Bireuen yang lenyap ditelan oleh waktu, Perguruan Islam Al Muslim berkembang dengan baik. Bangunan barupun perlu terus ditambah untuk memenuhi tuntutan anak didik yang semakin bertambah banyak. Derajat perguruan Al Muslim inipun terus meningkat.  Di era Republik Indonesia Perguruan Al Muslim telah mempunyai perguruan tinggi. Kini Al Muslim sudah berkembang dengan 3 fakultas, yaitu Fakultas Pendidikan, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Agama. (tambahan red, saat ini Al Muslim sudah memiliki 7 fakultas)………….bersambung ke Episod 8.

Mei 13, 2008 - Ditulis oleh Johan Peusangan | Sejarah T. Tjhik Peusangan | , , , | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 6 Juni 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja - sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta - sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm Scientific System of Science - The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

    Komentar oleh Qinimain Zain | Juni 6, 2008

Tinggalkan komentar