Persahabatan Ampon Chik Peusangan dengan Tgk. Haji Pulo: Bernuansa Pendidikan dan Kesejahteraan
Oleh: dr. Abdul Razak M.H. Pulo
Konon, Tgk. H. Pulo disinyalir sebagai salah seorang warga yang mendiami kawasan Cot Batee, Bireuen. Waktu itu hanya ada 4 orang –termasuk Tgk. H. Pulo– yang mula-mula mendiami kawasan pesisir tersebut. Kini, keturunan mereka telah menyebar di seluruh Aceh, terutama di pesisir Bireuen (Cot Batee, Cot U, Cot Uno, Ujong Blang, Lancok, Cot Trieng, Cot Lagasawa, Jangka, dsb).
Hal ikhwal bagaimana awalnya terjadi pertemuan antara Ampon Chik Peusangan dan Tgk. H. Pulo hingga berbuah persahabatan yang langgeng itu masih misteri. Saya sudah mencoba menelusur jejak tersebut, namun saya belum menemukan titik terang……. yang terputus pada sebuah telikung. Alangkah indahnya, sekira ada di antara kita yang dapat membantu sambung telikung yang samar tersebut.
Persahabatan antara keduanya sangat erat, bahkan Tgk. H. Pulo menjadi teman yang paling dipercaya Ampon Chik -khususnya dalam hal mengurus- kelola harta benda Ampon Chik berupa kebun dan sawah. Aset-aset yang menjadi tanggung jawab Tgk. H. Pulo itu di antaranya berada di Cot Geulumpang, Cot Kuta, Cot Uno, Leubu, Juli, dan di beberapa tempat lainnya.
Dahulu di depan rumah Tgk. H. Pulo di Cot Batee terdapat sebuah balee bambu-kayu beratap daun rumbia yang khusus dibuat untuk tempat menerima dan menjamu kedatangan Ampon Chik. Banyak hal yang mereka bicarakan, termasuk manajemen aset-aset dan juga masalah-masalah pemerintahan di masa itu. Ampon secara berkala dua-tiga bulan sekali datang dengan sopir pribadinya –Dollah (Abdullah?)– yang beristrikan Ti Hawa, warga Leubu.
Persahabatan itu terus dibina. Tgk. H. Pulo tidak pernah mengkhianati persahabatan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dalam pada itu, salah seorang putri kandung Tgk. H. Pulo, Raliah, diminta tinggal bersama keluarganya di Rumoh Geudong Peusangan selama 3 tahun.
Pada tahun kemerdekaan 1945, Tgk. H. Pulo wafat meninggalkan 32 anak kandung dari 5 istri. Kini keturunan pertama Tgk. H. Pulo hanya tinggal dua yakni. H. Muhammad H.Pulo (77 tahun) di Juli and Wa Jami di Cot Uno. Namun cucu dan cicitnya serta keturunan berikutnya sungguhlah banyak –termasuk penulis– yang kini tersebar di seluruh Aceh, khususnya Bireuen.
Dilanjutkan Tgk. Ben Hassan H.Pulo
Pasca wafatnya Tgk. H. Pulo, Ampon Chik mempercayakan urus-kelola asetnya kepada Tgk. Ben Hassan H. Pulo, salah seorang putra Tgk. H. Pulo.
Ada hal paling menarik yang perlu saya ungkapkan. Di sini sangatlah jelas betapa dermawannya Ampon Chik, seolah-olah miliknya adalah milik semua orang. Begitu pemurah. Konon, saat menyerahkan kuasa untuk mengurus-kelola aset-asetnya kepada Tgk. Ben Hassan, Ampon Chik membuat sebuah pernyataan atau semacam perjanjian, tentu dalam bahasa Aceh, yang isinya (saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia): “Dalam hal mengurus-kelola kebun-sawah saya, tidak perlu persen-persenan. Adapun sisa dari yang telah dipakai oleh Tgk. Ben Hassan untuk keperluan hidupnya termasuk menyekolahkan anak-anaknya, itulah yang menjadi milik saya.”
Luar biasa!!.. Dan dengan hasil dari kebun-sawah itulah Tgk. Ben Hassan hidup dan menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi “orang”. Misalnya H. Syamsudin (anak ketiga Tgk. Ben Hassan) pernah menjadi Wedana Langkat. Kemudian salah seorang cucu Tgk. Ben Hassan, anak dari H. Syamsuddin yaitu Burhanuddin Hassan menjadi salah seorang petinggi Pertamina dan kini pun masih menjabat sebagai komisaris PT. Arun. Burhanuddin Hassan kini bermukim di Jakarta, dan putra-putrinya telah mendapat pendidikan tinggi di negri Paman Sam yang kini telah bekerja di perusahaan-perusahaan ternama di ibukota, sebut saja misalnya Rifki Hassan, salah seorang buah hati Burhanuddin Hassan, bekerja di PT. Paramitra Alfa Sekuritas. Bila dirunut-runut, apakah ini bisa lekang dari andil Ampon Chik….???
Belum lagi anak-anak Tgk. Ben Hassan yang lain, misalnya Drs. M. Yusuf. Beliau pernah bertugas di Dirjen Pendidikan Pusat, dan menjadi pengawas, termasuk ke Aceh. Anaknya yang lain yaitu: Maimunah, M. Husen, dan Baren menjadi guru.
Pada awal Desember 2007, saya dan ayah H. Muhammad H.Pulo ke Jakarta menghadiri pernikahan salah seorang cucu Tgk. Ben Hassan, yaitu M. Rajab Hassan (dipanggil Agam). Saat itu dengan tak sengaja menjadi kesempatan reuni dengan keluarga besar di Jakarta, khususnya keturunan Tgk. Ben Hassan.
Pada paragraf ini saya hanya mengambil intinya saja (sepotong sejarah). Sekiranya ada yang kurang tepat, mohon sidang pembaca meluruskannya. Menurut nara sumber saya, pada tahun 1945 itu pula, Ampon Chik dan juga Tgk. Ben Hassan dibawa dan dilindungi (dikurung?) oleh PUSA di Lamlo, Kuta Bakti Sigli. Kira-kira satu tahun kemudian Ampon Chik dibawa ke Takengon, tinggal pada sebuah rumah di Blang Kolak. Itu rumah milik Ampon Chik. Kira-kira 5 tahun yang lalu rumah tersebut telah dijual. Kemudian kira-kira 2 tahun setelah tinggal di Takengon, Ampon Chik pindah ke Medan.
Beralih ke Tangan H. Muhammad H.Pulo
Pada tahun 1950 (di masa DI/TII) Tgk. Ben Hassan H.Pulo mengutus adik bungsunya, H. Muhammad H.Pulo yang terkenal dengan sebutan “Nek Amad”, untuk mengurus-kelola lahan di Juli KM. 6 tepatnya di Desa Blang Keutumba. Masyarakat sekitar menyebut lahan tersebut Lampoh Rayeuk. Lahan di Juli ini dulunya banyak ditumbuhi kelapa, karet, dan kayu jati. Lahan tersebut hingga kini masih diurus-kelola oleh Nek Amad, dan bahkan rumah Nek Amad berada di kawasan lahan tersebut (di KM. 6) yang sudah dibeli dengan harga miring. Lagi-lagi sebuah kemurahan hati, ….bukan?
Tidak itu saja, Teuku Abu Bakar, populer dengan sebutan Ampon Baka (anak bungsu Ampon Chik) yang dipercayakan untuk memimpin pengurusan aset-aset sepeninggal Ampon Chik juga banyak menghibah tanah kepada Nek Amad dan mendapatkan komisi-komisi dan hasil penjualan tanah. Saya teringat betul, waktu saya kecil dulu Ampon Bakar beserta anak istri sering ke rumah kami. Ibu saya (Hj. Ainul Mardhiah) selalu menyajikan ikan bandeng bakar dengan sambal kecap sebagai menu utama. Asin. Pedas. Menu ini paling mereka sukai. Sajian tak lengkap tanpa kehadirannya. Hingga kini pun kalau sanak keluarga Ampon Chik berkunjung ke rumah kami –terutama kalau ada pemberitahuan awal– ibu saya selalu berusaha menyiapkan menu utama tersebut. Waktu memang terus berputar, namun kenangan tidak pernah lekang dari ingatan. Menghirup aroma bandeng bakar bersambal kecap pedas, imajinasi memorial bertahun-tahun silam pun seolah terpampang dengan indah dan syahdu di suatu sudut di ruangan rumah kami.
Pada tahun 1960, Tgk. Ben Hassan menghembuskan napasnya yang terakhir. Dan urus-kelola aset Ampon Chik melalui Ampon Baka diserahkan kepada Nek Amad hingga sekarang. Dan Nek Amad sebagai pemegang kuasa atas izin Ampon Baka, menggratiskan pemanfaatan lahan oleh masyarakat Blang Keutumba untuk bercocok tanam (kacang-kacangan dan jagung) di Lampoh Rayeuk tanpa dikutip bayaran apapun. Hingga saat ini.
Dan juga dari hasil urus-kelola itulah, H. Muhammad H. Pulo menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya. Dan Alhamdulillah, yang telah menempuh pendidikan tertinggi saat itu adalah saya, yakni telah lulus sebagai dokter umum di Universitas Syiah Kuala, dan kini telah menjadi PNS di Pemkab Bener Meriah, bertugas di Puskesmas Lampahan. Sebelumnya saya bekerja di Medecins Sans Frontieres Belgium (MSF-B), American Red Cross Indonesia dan International Organization for Migration Bireuen. Dan dua adik saya kini sedang kuliah di Teknik Sipil dan PSIK Unsyiah. Lagi-lagi tak bisa dipungkiri, keberhasilan kami dalam pendidikan adalah berkah dari kemurahan hati Ampon Chik Peusangan berserta keturunannya. Terima kasih yang tak terhingga Ampon Chik dan keturunannya……. Hanya Allah yang bisa membalas segala kebaikan ini.
Ada hal menarik yang pernah diungkapkan Nek Amad kepada Ampon Baka yang bertanya saat dirinya akan membeli sepetak tambak di kawasan Samutti. Nek Amad menyatakan “Nyan keuh Ampon, Lampoh Rayeuk ka dimeuaneuk u Samutti” (Itulah Ampon, Lampoh Ranyek sudah beranak ke Samutti).
Memang, dari hasil urus-kelola itulah yang menjadi pondasi nafkah keluarga Tgk. H. Pulo, Tgk. Ben Hassan, dan Nek Amad, termasuk menyekolahkan anak-anaknya hingga berhasil dan turut mengukir sejarah bangsa ini. Allah yang Maha Kuasa melalui Ampon Chik Peusangan banyak “membesarkan” serta mengangkat derajat warga yang kekurangan.
Dan saya sepakat dengan ide dibangunnya Museum Ampon Chik Peusangan di Matang Geulumpang Dua. Rumoh Geudong adalah tempat yang paling sesuai untuk museum tersebut…….. seakan menjadi tempat peristirahatan terakhir Ampon Chik, sebagai kenangan warga untuk Uleebalangnya tercinta yang dikebumikan nun jauh…… di Pemakaman Sultan Deli di Medan ***
Sumber: bincang-bincang dengan H. Muhammad H. Pulo (anak bungsu Tgk. H. Pulo).
Penulis: dr. Abdul Razak M.H. Pulo, anak kandung H. Muhammad H.Pulo (Nek Amad) http://razakpulo.blogspot.com



