Johantm Weblog

Merangkai sejarah Peusangan

TEUKU TJHIK MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH DALAM LINTASAN REVOLUSI ACEH Oleh: Dr.Teuku Mohamad Isa

Hadji Teuku Tjhik Peusangan went to Makkah al Mukarramah performing Hajj Pilgrimme 

Episod 9

MENUNAIKAN IBADAH HAJI KE MAKKAH AL MUKARRAMAH. 

         Kemakmuran dan kedamaian telah menghantarkan rakyat nanggroe Peusangan keharibaan kesehjahteraan. Peluang ini memberikan kesempatan bagi uleebalang Peusangan itu untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Tanpa membuang waktu, pada tahun 1924 uleebalang Peusangan menyewa sebuah kapal uap menuju Jeddah. Keluarganya sendiri serta para ulama dan tokoh rakyat Peusangan terkemuka dibawanya bersama untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah al Mukarramah.

        Mendengar kepastian uleebalang Peusangan akan berkunjung ke tanah suci, Gubernur Belanda di Aceh bergegas pula mengirim surat kawat (telegram) kepada Konsul Kerajaan Belanda di Jeddah. Penguasa tanah-suci ummat Islam dalam sekejap telah mengetahui kedatangan raja Islam dari Andalas, langsung dari tangan Konsul Belanda.  

       Kedatangan rombongan Teuku Tjhik Peusangan Muhammad Djohan Alamsjah disambut dengan upacara kebesaran militer oleh Sjarif Makkah, penguasa tanah-suci ummat Islam masa itu. Kedada raja Islam dari Pulau Andalas itu disematkannya Bintang Kehormatan Tertinggi Arab di tanah-suci ummat Islam. 

        Sekembali menunaikan ibadah haji, putra-putri Teuku Tjhik Peusangan mengusulkan kepada ayahandanya untuk mendirikan rumah baru yang lebih memenuhi syarat kesehatan. Setelah merenung sejenak dan menghitung ulang isi kantongnya, Teuku Tjhik Peusangan dengan senang hati memenuhi usul anak-anaknya.

      Maka, berdirilah di Matang Glumpang Dua rumah baru model arsitektur Eropa mejadi pengganti rumah panggung berarsitektur Aceh. Rumah lama itu sudah mulai lapuk, dan sudah tidak layak huni lagi. Untuk mengenang kepindahan kerumah baru ini, keluarga besar Teuku Tjhik Peusangan berfoto bersama dihalaman rumah yang nyaman dan asri itu. Seorang fotografer yang sangat profesional mengabadikan keluarga uleebalang itu dalam sebuah foto hitam-putih yang indah pada tahun 1933.

      Mungkin orang bertanya, siapa gerangan fotografer yang hebat itu. Jangan terkejut!!.. Dia adalah seorang bangsa Jepang, pemilik toko foto SAKURA, di kota Bireuen. Tidak hanya Teuku Tjhik Peusangan yang menjadi langganan tetap, tetapi juga para pejabat sipil dan militer Belanda di Aceh menjadi langganan tetapnya. Foto ini membawa kisah sedih untuk keluarga Teuku Tjhik Peusangan. Ketika bala-tentara Jepang baru mendarat di Peusangan pada tahun 1942, Teuku Tjhik Peusangan langsung ditawan oleh pasukan kempeitai Jepang.

      Komandan kempeitai yang menangkapnya, adalah fotografer pemilik toko foto Sakura itu. Teuku Tjhik Peusangan dituduh oleh si fotografer itu melindungi pelarian Belanda. Memang benar! Seluruh orang Belanda yang berada di Aceh, bagaikan dikejar hantu yang mengerikan, berlarian menyelamatkan dirinya menjelang tentara Jepang mendarat di Aceh.

      Belanda ini berusaha menyelamatkan dirinya bukan hanya dari kejaran serdadu Jepang yang sangat mengerikan, tetapi juga dari kejaran orang Aceh yang bergabung dalam kolone-V Fujiwara. Belanda yang sedang dilanda ketakutan, berbondong-bondong masuk ke dalam pekarangan rumah uleebalang Peusangan. Belanda yang ketika berkuasa sangat congkak itu, bagaikan ayam terkena flu burung, dalam keadaan lunglai memohon belas kasihan dan perlindungan dari raja orang Aceh itu.

      Lebih tragis lagi mala-petaka ini menimpa kontroler Meureudu, van Nu dan keluarganya. Dalam pakaian piyama yang melekat ditubuhnya, pada tanggal 13 Maret 1942 mereka berlutut dikaki Teuku Tjhik Peusangan memohon perlidungannya. Bukan sifat kesatria bangsa Aceh menghabisi musuh yang sudah tak berdaya. Kelak, pada tahun 1945 ketika Jepang bertekuk lutut kepada tentara Sekutu Amerika, van Nu -mantan kontroler Belanda di Meureudu- menjadi kepala NEFIS,  kempeitainya Belanda di Medan.

       Berbekal beasiswa Malino, beberapa anak uleebalang dan kerabatnya yang dapat menyelamatkan diri dari algojo PUSA dalam revolusi, dikirim oleh van Nu belajar di Negeri Belanda. Diantara mereka ini, adalah Prof Dr. Teuku Iskandar, alumni Universiteit Leiden -ahli sastra Aceh- dan rektor pertama Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

      Putra Teuku Njak Arief, pahlawan nasional Indonesia dan anggota Volksraad pembela Ir. Soekarno, Ir. Teuku Zahir -ahli perkapalan dari THS- Delft dan direktur galangan kapal Jakarta era Presiden Soekarno, juga dapat  belajar di Negeri Belanda berkat kiat van Nu.

     Seorang lagi yang perlu disebut adalah Teuku Rasjid, kemenakan uleebalang Meureudu. Dia belajar Indologi di Universiteit Leiden, tetapi kesempatan ini disia-siakan oleh anak bangsawan Meureudu itu. Akhirnya van Nu menempatkan Teuku Rasjid itu sebagai Inspektur Polisi dikota Padang.

      Pada masa Jepang mendarat ini tahun 1942, tampil pula seorang kader PUSA, anggota kolone ke-V Fujiwara Kikan, menyelamatkan seorang Belanda dari hukuman gantung. Dia adalah Husin Jusuf. Tentara Jepang yang sedang mabuk kemenangan itu, sungguh heran oleh ulah kader PUSA itu.

      Ketika Professor Dr.Ir. Krossweg sudah siap untuk dihukum gantung, tiba-tiba saja Husin Jusuf tampil didepan regu tembak serdadu Jepang. Husin Jusuf dengan tegas mencegah sang serdadu melanjutkan niatnya itu. Alasannya, orang Belanda tersebut hanyalah seorang landbouwconsulent pada perusahan perkebunan swasta di Tamiyang. Husin Jusuf pribadi bersedia menjamin, bahwa orang Belanda akan bersikap baik terhadap penguasa Jepang.

      Komandan tentara Jepang bertanya penuh keheranan:  “Kamu orang Aceh sangat benci kepada Belanda, tetapi kamu membela orang Belanda yang seharusnya kita bunuh”. Husin Jusuf menjawab: “Memang kami sangat benci kepada Belanda, tetapi tidak kepada orang yang sudah tidak berdaya”.

      Maka, selamatlah orang Belanda yang sudah tak berdaya lagi itu. Kelak, Professor Dr.Ir. Krossweg ini menjadi penasehat utama Presiden Soekarno dalam perang merebut Irian Barat tahun 1963.[1] Sebagai tanda terima kasihnya untuk kesatriaan orang Aceh, Prof.Dr.Ir. Krossweg menghabiskan sisa hidupnya dengan mengasuh anak-anak muda Aceh.

      Ada sekitar 400 orang muda Aceh menjadi anak asuhnya. Diantara lain dalam jajaran militer, Mayor Jederal TNI-AD Teuku Djohan, Kolonel TNI-AD Teuku Badrulzaman dan Kolonel Teuku Keumala. Dalam jajaran sipil antara lain, Prof.Dr. Bachtiar Ali, duta besar RI di Mesir dan bankir kenamaan-alumni sekolah tinggi ekonomi Rotterdam, Drs Adnan Ganto. Sampai ajal menjemputnya, kedua anak manusia itu, Husin Jusuf dan Prof.Dr.Ir. Krossweg tetap bersahabat baik.

         Menjelang kekalahannya terhadap tentara Sekutu Amerika pada tahun 1945, dalam keadaan uring-uringan fotografer Jepang itu datang lagi menangkap Teuku Tjhik Peusangan untuk dijebloskan kedalam penjara Keudah-Kutaraja. Teuku Tjhik Peusangan dijadikan sasaran pembersihan terhadap sisa-sisa gerakan dibawah tanah tentara Sekutu yang dipimpin oleh O.Treffers -mantan asisten residen Belanda di Kutaraja- Aceh Besar. Saingan terberat Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam memperebutkan pengaruh politik di Pidie, akhirnya telah menjadi korban keganasan serdadu Jepang pada tanggal 28 Agustus 1944.        

         Pada tanggal 25 November 1937 Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah, genap 25 tahun memerintah nanggroe Peusangan. Para ulama dan orang-orang kaya serta tokoh masyarakat terkemuka nanggroe Peusangan segera berkumpul untuk berembug, membicarakan acara penghormatan untuk uleebalangnya.

       Mereka sangat menghormati keberhasilan kerja keras Teuku Tjhik Peusangan, meningkatkan kesejahteraan rakyat nanggroe Peusangan. Perayaan memperingati 25 tahun Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah memeritah nanggroe Peusangan dimeriahkan dengan berbagai hiburan diseluruh nanggroe Peusangan. Tak lupa doa keselamatan dipanjatkan oleh para ulama diseluruh mesjid dan surau. Dan bunyi suara bedug bertalu-talu diseluruh nanggroe Peusangan.

      Para saudagar kaya dan masyarakat nanggroe Peusangan mempersembahkan 3 macam hadiah yang sangat berharga  untuk rajanya. Hadiah pertama, adalah tugu peringatan 25 tahun Teuku Tjhik Peusangan Muhammad Djohan Alamsjah bertahta di nanggroe Peusangan. Sungguh sayang, monumen persembahan para pemilik ruko di Matang Glumpang Dua ini dipindahkan oleh Cut Yusmiati bin Teuku Jusuf bin Teuku Tjhik Abdul Latif, isteri Teuku Abubakar bin Teuku Tjhik Peusangan M. Djohan Alamsjah, pada tahun 1980-an. Dan dilokasi tugu itu berdiri, telah dibangunnya ruko baru. Semoga saja dapat kembali dilestarikan monumen bersejarah bagi nanggroe Peusangan tersebut.

      Hadiah kedua, adalah mesin diesel pembangkit listrik seharga f.300,- dari beberapa orang petani kaya pemilik huiler (penggiling padi). Hadiah ini untuk rumah kediaman Teuku Tjhik Peusangan. Sungguh berharga hadiah ini bagi keluarga besar uleebalang Peusangan. Sejak saat itu keluarga besar uleebalang itu tak perlu bersusah payah, menyalakan lampu tempel setiap menjelang malam tiba. Mesin diesel pembangkit listrik ini, hingga kini masih berbakti menerangi kediaman uleebalang Peusangan yang telah berubah fungsi menjadi rumah sakit bersalin.

      Hadiah ketiga sungguh menakjubkan. Terutama sekali untuk masyarakat pribumi yang berada diluar nanggroe Peusangan yang masih berlumuran kemelaratan. Mereka tak akan mampu membayangkan uleebalang Peusangan mendapatkan hadiah seharga f.1000,-. Beberapa orang pedagang terkaya nanggroe Peusangan mempersembahkan kepada rajanya sebuah mobil Chrysler baru yang khusus dipesan langsung dari pabriknya di Negeri Amerika Serikat.

      Kelak mobil Chrysler ini menciptakan kisahnya sendiri.  Ketika Jepang menjajah Aceh, mobil ini disitanya dan digunakan oleh perwira Jepang. Dan dengan mobil ini pula Teuku Tjhik Peusangan dijemput perwira Kempetai Jepang, pertama pada tahun 1942 dan kedua pada tahun 1945 untuk dijebloskan kedalam tahanan Jepang. Pada tahun 1946 giliran tokoh PUSA menawan Teuku Tjhik Peusangan. Dengan mobil ini juga Teuku Muhammad Amin -Sekretaris PB PUSA-  mengantarkan Teuku Tjhik Peusangan, ketempat pengasingannya di konsentrasi kamp PUSA di tanah Gayo .

        Kita kembali lagi ke ulang tahun 25 tahun bertahtanya Teuku Tjhik Peusangan. Pada upacara yang meriah itu, Gubernur dan pejabat Belanda lainnya dengan cerdik menampilkan dirinya sebagai sahabat uleebalang Peusangan. Berbekal buih mimpi keagungan Kerajaan Belanda, pada hari yang bersejarah itu, tanggal 25 November 1937, Gubernur Belanda di Aceh menyematkan bintang maha-putra Kerajaan Belanda -Ridder van Oranye- kedada Teuku Tjhik Peusangan Muhammad Djohan Alamsjah.

      Pemerintah Hindia Belanda menganggap uleebalang Peusangan sudah cukup berjasa memakmurkan dan menjadikan rakyatnya sejahtera. Dan yang terpenting bagi Belanda, uleebalang ini sudah sangat jinak terhadap tentara Belanda. Lebih-lebih lagi kemakmuran rakyat Peusangan telah mengalirkan dengan deras ringgit emas yang berasal dari pajak kekantong Hindia Belanda . bersambung ke Episod 10. 

 [1] Dalam masa penjajahan Jepang, Husin Jusuf, menjadi kader PUSA di Giyugun (lasykar rakyat) dengan pangkat Letnan. Pada bulan Maret 1946, Husin Jusuf diangkat menjadi Panglima TKR-Aceh oleh Teungku Amir Husin Al Mujahid-Panglima Lasykar Tentara Perjuangan Rakyat

Juli 15, 2008 - Ditulis oleh Johan Peusangan | Sejarah T. Tjhik Peusangan | , , , , , , , , , , , , , , | 7 Komentar

7 Komentar »

  1. Bang Johan….Cerita Nekgam naik onta dari pelabuhan ke mekkah pasti menarik juga diangkat.
    Salam,

    Komentar oleh Azmy Trumon | Juli 16, 2008

  2. Menarik juga Azmy kalau bisa kita angkat, paling tidak fotonya untuk kita share, bg johan belum pernah tahu ceritanya…thanks

    Komentar oleh Johan Peusangan | Juli 17, 2008

  3. Menarik di cerita ini ada disebut nama Drs. Adnan Ganto. Beliau lulusan Economische Hogeschool di Rotterdam (yang namanya berubah menjadi Erasmus University). Pak Adnan Ganto adalah bekas ketua Ikaned (Ikatan Alumni Nederland) yang 2 kali terpilih tahun 2000-2003 dan 2003-2006. Pada masa kepengurusan beliau, saya sempat jadi koordinator Seksi Pendidikan dan melaksanakan beberapa kegiatan seminar Ikaned. Pada saat itu pak Adnan juga adalah executive perusahaan keuangan multi-national (berkantor pusat di New York, tapi beliau sendiri berkantor di Tokyo) merangkap penasihat ekonomi Menteri Pertahanan.

    Komentar oleh Syamaun Peusangan | Juli 24, 2008

  4. Dear All,
    Cerita tentang perjalanan ibadah Nekgam yang kami dapat dari HPA dalam rombongan juga ikut Ma’ haji (ahli masak Nekgam)..

    Khusus menanggapi tentang dakwaan Jepang/PUSA bahwa Nekgam melindungi orang-orang Belanda, hal ini menurut HPA, akibat dari perjalanan Aceh Trem tertahan di kota Bireuen; karena tidak dapat melanjutkan perjalanan ke selatan; sehingga banyak ibu-ibu dan anak-anak yang terlantar di stasiun Bireuen, sisi kemanusian Nekgam terusik sehingga Nekgam mempersilahkan ibu&anak untuk mendapatkan “Makan & Minum serta Beristirahat di rumoh Bireuen” niat baik Nekgam PASTI tak terbaca oleh orang yang saat itu “Bermata-Gelap”, hanya kepada ALLAH SWT kita doa’kan agar kakek kita mendapatkan ganjaraNYA sesuai perbuatan di dunia.
    Sukses untuk Bang Johan Peusangan ( Ir.Teuku M. Djohan Peusangan)

    Komentar oleh Azmy Trumon | Juli 28, 2008

  5. Thanks Ad. Azmy dan ibunda HPA atas tambahannya, semakin terang kita tahu sejarah semakin terharu kita atas perjuangan berat endatu kita dahulu…… Nek Gam telah mencatat dalam sejarah suatu pancaran cahaya yang ikhlas dari sisi perjuangannya…. dan Insya Allah telah menikmati berlipat ganda pahala dari Allah SWT sbg sebaik-baik balasan….Semoga sejarah bermakna ini akan terus dilengkapi anak-cucu penerus generasi kita… Amin

    Komentar oleh Johan Peusangan | Juli 29, 2008

  6. Mengenai bintang jasa, negeri Belanda mengenal 3 jenis. untuk militer adalah Militaire Wilems Orde, seperti yang pernah diberikan pada Generaal van Heutsz adalah yang tertinggi yaitu Grootkruis MWO. Untuk sipil ada dua, yaitu Ridder in de Orde van Nederlandse Leeuw yang diberikan untuk sipil Belanda atas jasa-jasanya, misalnya Grootkruis untuk Rinus Michels dan Ridder untuk Marco van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard dkk sewaktu Belanda menjadi juara Eropah di tahun 88.
    Untuk sipil asing (duta besar dsb) tanda jasa yang diberikan adalah Ridder in de Orde van Oranje Nassau seperti yang didapat Nek Gam, yaitu lintjes ditambah medali.

    Komentar oleh Syamaun Peusangan | Juli 30, 2008

  7. wah bagus skali, menambah pengentahuan tentang nanggroe n pahlawannya..saleum

    Komentar oleh hubbul walidainy | Agustus 20, 2008

Tinggalkan komentar