TEUKU TJHIK MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH DALAM LINTASAN REVOLUSI ACEH Oleh: Dr.Teuku Mohamad Isa
Episod 9
MENUNAIKAN IBADAH HAJI KE MAKKAH AL MUKARRAMAH.
Mendengar kepastian uleebalang Peusangan akan berkunjung ke tanah suci, Gubernur Belanda di Aceh bergegas pula mengirim surat kawat (telegram) kepada Konsul Kerajaan Belanda di Jeddah. Penguasa tanah-suci ummat Islam dalam sekejap telah mengetahui kedatangan raja Islam dari Andalas, langsung dari tangan Konsul Belanda.
Kedatangan rombongan Teuku Tjhik Peusangan Muhammad Djohan Alamsjah disambut dengan upacara kebesaran militer oleh Sjarif Makkah, penguasa tanah-suci ummat Islam masa itu. Kedada raja Islam dari Pulau Andalas itu disematkannya Bintang Kehormatan Tertinggi Arab di tanah-suci ummat Islam.
BANGSAWAN ACEH DENGAN PENGAJARAN
Dirangkum oleh: Johan Peusangan
Judul diatas diambil dari sebuah tulisan Majalah Pandji Poestaka jameun sekitar tahun 1940 dan masih menggunakan ejaan lama. Isinya benar-benar merupakan pengakuan bahwa proses pembelajaran di nanggroe geutanyo saat itu benar benar membanggakan, sejajar dengan daerah terbaik lainnya di Nusantara. Tulisan ini juga menyedot pikiran kita kembali ke prestasi Aceh dahulu yang bukan saja gudang Ilmu Pengetahuan Agama, tetapi juga menguasai ilmu duniawi dengan prestasi yang banyak dikagumi kaum penjajah itu sendiri.yang mengklaim sebagai pembawa ilmu pengetahuan ke bumi nusantara serta juga menghempaskan lamunan kita terhadap kondisi pendidikan saat ini yang sungguh memprihatinkan.
Sebelum menampilkan uraian dari judul tulisan diatas, saya ingin untuk menyampaikan pendapat yang telah lama saya analisa dan renungkan berdasarkan fakta-fakta kini dan sejarah Atjeh tempo doeloe, bahwa resep untuk mencapai kesejahteraan yang dicita-citakan Masyarakat Seramo Mekkah nyo hanya dapat dicapai melalui 3 langkah berikut ini…………..
TEUKU TJHIK MUHAMMAD DJOHAN ALAMSJAH DALAM LINTASAN REVOLUSI ACEH Oleh: Dr.Teuku Mohamad Isa

Episod 8
KEBERHASILAN TEUKU TJHIK PEUSANGAN DALAM MEMBINA EKONOMI RAKYAT
Dengan berbekal ilmu pengetahuan duniawi milik Belanda dan ilmu duniawi-ukhrawi Islamnya orang Aceh, Teuku Tjhik Peusangan memberanikan dirinya untuk mengajak rakyat Peusangan mengarungi kehidupan nyata untuk mencari nafkah yang halal. Maka, roda ekonomi rakyat harus dihidupkan kembali. Perhatian utama ditujukan ke bidang pertanian rakyat.
Pertanian model onderneming (perkebunan) yang telah mencelakakan rakyat Aceh di nanggroe Tamyang dan nanggroe Langsa dijauhinya. Seluruh rakyat Peusangan digugahnya untuk memperluas area persawahan. Ternyata persawahan yang luas menyedot air yang sangat banyak pula. Persedian air untuk persawahan tak mencukupi lagi. Melihat kenyataan ketidak mampuan masyarakat Peusangan untuk memecahkan masalah perairan bagi sawah mereka yang sangat luas itu, Teuku Tjhik Peusangan terpaksa berpaling pada penguasa Hindia Belanda.
Persahabatan Ampon Chik Peusangan dengan Tgk. Haji Pulo: Bernuansa Pendidikan dan Kesejahteraan
Oleh: dr. Abdul Razak M.H. Pulo
Konon, Tgk. H. Pulo disinyalir sebagai salah seorang warga yang mendiami kawasan Cot Batee, Bireuen. Waktu itu hanya ada 4 orang –termasuk Tgk. H. Pulo– yang mula-mula mendiami kawasan pesisir tersebut. Kini, keturunan mereka telah menyebar di seluruh Aceh, terutama di pesisir Bireuen (Cot Batee, Cot U, Cot Uno, Ujong Blang, Lancok, Cot Trieng, Cot Lagasawa, Jangka, dsb).
Hal ikhwal bagaimana awalnya terjadi pertemuan antara Ampon Chik Peusangan dan Tgk. H. Pulo hingga berbuah persahabatan yang langgeng itu masih misteri. Saya sudah mencoba menelusur jejak tersebut, namun saya belum menemukan titik terang……. yang terputus pada sebuah telikung. Alangkah indahnya, sekira ada di antara kita yang dapat membantu sambung telikung yang samar tersebut.




