BANGSAWAN ACEH DENGAN PENGAJARAN
Dirangkum oleh: Johan Peusangan
Judul diatas diambil dari sebuah tulisan Majalah Pandji Poestaka jameun sekitar tahun 1940 dan masih menggunakan ejaan lama. Isinya benar-benar merupakan pengakuan bahwa proses pembelajaran di nanggroe geutanyo saat itu benar benar membanggakan, sejajar dengan daerah terbaik lainnya di Nusantara. Tulisan ini juga menyedot pikiran kita kembali ke prestasi Aceh dahulu yang bukan saja gudang Ilmu Pengetahuan Agama, tetapi juga menguasai ilmu duniawi dengan prestasi yang banyak dikagumi kaum penjajah itu sendiri.yang mengklaim sebagai pembawa ilmu pengetahuan ke bumi nusantara serta juga menghempaskan lamunan kita terhadap kondisi pendidikan saat ini yang sungguh memprihatinkan.
Sebelum menampilkan uraian dari judul tulisan diatas, saya ingin untuk menyampaikan pendapat yang telah lama saya analisa dan renungkan berdasarkan fakta-fakta kini dan sejarah Atjeh tempo doeloe, bahwa resep untuk mencapai kesejahteraan yang dicita-citakan Masyarakat Seramo Mekkah nyo hanya dapat dicapai melalui 3 langkah berikut ini…………..
Persahabatan Ampon Chik Peusangan dengan Tgk. Haji Pulo: Bernuansa Pendidikan dan Kesejahteraan
Oleh: dr. Abdul Razak M.H. Pulo
Konon, Tgk. H. Pulo disinyalir sebagai salah seorang warga yang mendiami kawasan Cot Batee, Bireuen. Waktu itu hanya ada 4 orang –termasuk Tgk. H. Pulo– yang mula-mula mendiami kawasan pesisir tersebut. Kini, keturunan mereka telah menyebar di seluruh Aceh, terutama di pesisir Bireuen (Cot Batee, Cot U, Cot Uno, Ujong Blang, Lancok, Cot Trieng, Cot Lagasawa, Jangka, dsb).
Hal ikhwal bagaimana awalnya terjadi pertemuan antara Ampon Chik Peusangan dan Tgk. H. Pulo hingga berbuah persahabatan yang langgeng itu masih misteri. Saya sudah mencoba menelusur jejak tersebut, namun saya belum menemukan titik terang……. yang terputus pada sebuah telikung. Alangkah indahnya, sekira ada di antara kita yang dapat membantu sambung telikung yang samar tersebut.
“MAYDAY-MAYDAY” SAVE OUR HISTORICAL SOUL
Apa sih pentingnya Sejarah…????, Oleh: Johan Peusangan
Sebelum menjawab pertanyaan diatas marilah kita amati kisah nyata berikut.
Sekali lagi… akibat lamanya Aceh diterjang konflik, tak ayal lagi penduduknya menjadi yang termiskin diseantaro propinsi yang ada di republik ini. Akibatnya bisa menjadi liar merambah kemana-mana.
Rekan kerja saya di Pabrik Pupuk Lhokseumawe Kang Eddy asli Cirebon, yang karena tugas penyuluhannya harus banyak datang kedaerah-daerah terpencil di Aceh, punya cerita sendiri. Akibat derita kemiskinan berkepanjangan, banyak penduduk desa di Aceh itu rela menjual benda-benda sejarah yang dipunyainya. Dengan uang puluhan ribu rupiah benda-benda berharga tersebut dengan cepat berpindah tangan.
SEJEMPUT TANGGAPAN MILIS TENTANG REVOLUSI DI ACEH
Posting by Syamaun Peusangan
Selama lebih 23 tahun menghirup udara Serambi Mekah ini, saya merasa Aceh meutuah nyo sangat kurang akan literature sejarah. Bahkan generasi muda Aceh sendiri kurang tahu menahu bahkan rada cuek dengan sejarah nanggroenya sendiri. Ironisnya mereka lebih mengetahui sejarah luar Aceh dengan baik. Ini karena kita semua masih jarang menuangkan dalam kertas apa yang tersimpan dalam memori berkaitan sejarah Aceh. Untuk inilah website ini dibuat, melalui tonggak awal sejarah peusangan kita ingin menelusuri lorong-lorong gelap untuk menjangkau sejarah Aceh yang lebih komprehensip. Bertujuan bukan mencari benar salah ataupun membuka luka lama, tetapi sebagai ilmu pengetahuan yang berhak untuk diketahui oleh generasi Aceh saat ini dan mendatang.
Berikut sekelumit kisah di mailing list mengenai sejarah Aceh dan komentar dari rekan Syamaun Peusangan untuk kita berbagi bersama…





